Kamis, 02 Mei 2013

SEJARAH FIRTRADE


Sejarah Fairtrade
Harga beli kakao di tingkat petani selalu fluktuatif, kemarin harga kakao yang telah dijemur selama 3 (tiga) hari Rp. 18.000,- tetapi hari ini turun menjadi Rp. 16.800,-. Dengan kondisi tahun baru ajaran sekolah petani terpaksa menjual kakao yang telah dikeringkan dengan harga lebih murah karena keperluan untuk biaya sekolah anaknya.

Ini merupakan salah satu cermin kondisi sosial kehidupan petani kakao kita. Bila kita tanya apa harapan petani kakao kita, jawabannya tenyata cukup sederhana. Kami mau kakao kami dibeli dengan harga yang layak. Harus diakui produktifitas dan kualitas kakao petani kita masih sangat rendah. Tetapi seiring dengan program perbaikan produktifitas dan kualitas kakao indonesia yang di canangkan oleh Pemerintah secara bertahap mudah-mudahan produktifitas dan kualitas kakao indonesia bisa lebih baik.


Sistem fair-trade sangat memahami harapan yang ada pada petani kakao kita. Untuk itu saya ingin berbagi informasi sedikit dengan teman-teman mengenai sejarah lahirnya fair-trade. Tetapi informasi ini akan saya fokuskan pada komoditas kakao.

Seperti yang kita tahu kalau coklat merupakan kebutuhan utama bagi orang-orang di benua Amerika, Eropa dan Australia yang notabenenya merupakan orang-orang kaya. Salah satu produk yang mereka sangat   butuhkan adalah kakao. Hampir semua jenis makanan mengandung kakao, malah untuk kosmetik mereka juga menggunakan kakao sebagai bahan bakunya.

Orang-orang kaya tersebut sangat suka kan kakao alias coklat, mereka membeli kakao di toko-toko atau pusat pembelajaan di negaranya dengan harga mahal dan kualitas yang tinggi. Mereka sebenarnya juga tahu kalau kakao yang dibelinya dengan harga tinggi ditanam oleh petani-petani kecil yang tingkat penghidupannya sangat rendah dan miskin. Sementara  mereka membeli coklat dengan harga yang tinggi tetapi keuntungannya tidak pernah dirasakan oleh petani-petani kakao malah yang mendapat keuntungan adalah pedagang-pedagang besar yang membeli kakao dari petani dengan harga murah. 

Sungguh ironi memang petani yang menanam kakao, merawat dan memelihara kakao, yang setiap hari pergi ke kebun berharap kakao nya bisa panen banyak dan mendapat keuntungan yang setimpal dengan jerih payah mereka. Tetapi begitu kakaonya panen dan mereka jual ke pedagang/agen setempat, kakaonya dihargai dengan harga yang sangat murah dengan berbagai alasan. Petani yang tidak mempunyai alternatif lain sementara kebutuhan hidup yang perlu dipenuhi terpaksa menjual kakaonya dengan harga murah.

Kondisi inilah yang menjadi latar belakang lahirnya suatu mekanisme perdagangan yang adil, dimana produser dalam hal ini petani dan pedagang harus mendapatkan keuntungan yang sama dan konsumen yang membeli dengan harga tinggi harus mendapat kualitas yang baik. Sebisa mungkin sistem yang akan diterapkan harus  memutuskan mata rantai perdagangan yang panjang. Petani harus bisa menjual kakaonya langsung ke pembeli akhir sehingga harga kakao petani bisa dibeli dengan harga yang layak dan menguntungkan petani.

Ada hal yang menarik dari fair-trade ini, yaitu adanya premium price. Saya akan jelasin apa itu premium price fair-trade pada posting saya selanjutnya. Mudah-mudahan penjelasan saya di atas bisa memberi suatu gambaran kepada teman-teman semua mengenai fair-trade.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentarnya Disini...................