Jumat, 30 September 2016

Mengenal Lebih Dekat dengan HAMA dan PENYAKIT yang Sering Menyerang Tanaman Cabe
Kali ini kita akan coba mengulas dan mengenali beberapa jenis hama maupun penyakit yang sering menyerang tanaman cabe (Capsicum annuum L.),  Hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman ini sudah menjadi keharusan untuk kita ketahui.

Menjadi keharusan karena jangan sampai kita berandai-andai yang manisnya saja mengenai keuntungan atau laba yang akan kita peroleh pada saat panen cabe. Ini beneran lho…
Pada intinya, seperti biasa saya mengingatkan…sebelum melakukan kegiatan apapun kita harus minimal pertama membuat dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung kegiatan kita agar mendatangkan keuntungan. Kedua, nah ini yang biasanya kita lewatkan atau bahkan kadang-kadang terlupakan, yaitu mengenai faktor-faktor yang justru dapat merugikan, di sini yang akan kita coba ketahui adalah seputar hama dan penyakit pada tanaman cabe.
Sebenarnya, salah satu penyebab lain mengapa harga cabe merah, misalnya, pada suatu saat tiba-tiba melambung tinggi adalah karena adanya serangan hama dan penyakit, selain tentunya akibat musim atau cuaca yang kurang mendukung. Banyak petani cabe merah sahabat kita, mengalami kerugian yang tidak sedikit jumlahnya akibat serangan hama dan penyakit pada tanaman mereka. Namun bagi yang sudah menyiapkan diri menghadapinya, pada umumnya tingkat kerugian dapat ditekan bahkan dapat dicegah.
Baiklah, kita lanjut ke materi utama ya..
Tanaman/buah cabe atau kita sebut cabe saja, ternyata meskipun rasanya pedas tapi tidak menyebabkan hama dan penyakit mengurungkan niatnya untuk menyerang. Beberapa dari serangan penyakit bahkan dapat menyebabkan akibat yang sangat dan sangat merugikan. Materi tulisan ini berasal dari beberapa sumber, diolah dan ditambah seperlunya dengan harapan menambah pengenalan kita terhadap musuh tanaman cabe. Ok,…Mari kita pelajari satu-persatu…
Hama
1. Hama Ulat
a. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Hama ulat begitu populer di kalangan para petani. Popularitas ulat ini tidak perlu diragukan lagi dan menjadi musuh sejak dulu, tidak terkecuali terhadap tanaman cabe. Ulat yang biasanya sering menyarang tanaman cabe diantaranya adalah ulat grayak (Spodoptera litura). Ulat jenis ini dapat memakan daun sampai bolong-bolong sehingga kemampuan fotosintesis tanaman terganggu. Pada serangan yang massif ulat grayak ini sampai memakan habis seluruh daun dan hanya menyisakan tulang-tulang daun…. Serangannya mirip ikan Piranha kalau kita bandingkan…
b. Ulat jenis Helicoverpa sp dan Spodoptera exiqua
Serangan ulat jenis ini menyebabkan lubang pada buah cabe, baik cabe yang masih hijau maupun pada cabe yang sudah merah.
c. Pola serangan
Pada umumnya serangan ulat terjadi di malam hari atau saat sinar matahari teduh, misalnya menjelang sore hari. Menurut informasi, ternyata si ulat tidak nyaman menyantap daun atau cabe di bawah terik matahari…Pada siang hari yang terik , mereka bersembunyi di bawah ketiak daun, pangkal tanaman atau dibalik mulsa, sehingga mereka nyaman dan aman dari sengatan sinar matahari dan selamat dari penyemprotan bila dilakukan penyemprotan.  Pintar juga nihulat..
d. Pengendalian
Pengendalian dilakukan berdasarkan karakter dan kebiasaan ulat. Ada dua cara yang dapat kita tempuh :
  • Pada malam hari, pada saat ulat keluar dari persembunyiannya, ulat bisa diambil secara langsung dari tanaman cabe  dan dimusnahkan
  • Penyemprotan dengan insektisida.  Gunakan insektisida organik seperti PHEFOC untuk menyemprotnya. Dosis 6 tutup botol PHEFOC untuk 14 liter air (kapasitas tanki semprot). Lakukan penyemprotan pada malam hari agar effektif disaat ulat keluar dari persembunyiannya
2. Hama Lalat Buah
lalat buahSerangan hama ini dapat menyebabkan buah menjadi rontok dan dapat menyebabkan kita gagal panen. Dan bisa membuyarkan segala impian kita…gawat.
a. Pola Serangan
Hama Lalat buah (Bactrocera dorsalis, B. cucurbitae, B. carambolae) ini dapat bersumber dari buah yang terinfeksi, adanya kepompong di dalam tanah, dari tanaman inang seperti mentimun, belimbing, maupun berasal dari tanaman cabe berdekatan yang sudah terserang
Penyebaran dan penularan sangat mudah terjadi karena lalat merupakan salah satu jenis insect(serangga) yang aktif terbang apalagi pada saat terjadinya peralihan musim.
Serangan biasanya terjadi setelah agak siang, yaitu setelah tanaman kering dari embun pagi.
b. Pengendalian
Beberapa pengendalian dapat kita lakukan :
  • Buah cabe yang sudah rontok atau akan rontok (sudah terserang) dipungut dan dimusnahkan dengan dibakar.  Hal ini dilakukan untuk mencegah dan memutus rantai penularan.  Dalam cabe yang sudah terserang akan banyak mengandung pupa lalat yang nantinya akan memperparah serangan.  Hindari pula menanam cabe terlalu berdekatan dengan tanaman buah misalnya mangga atau belimbing karena tanaman buah juga menjadi target serangan lalat.
  • Perangkap lalat dapat dicoba digunakan, ini dapat anda beli di toko pertanian. Lalat dirangsang untuk memasuki jebakan.  Apabila serangan mulai parah, lakukan penyemprotan menggunakan PHEFOC, disemprot pagi hari sebelum embun di daun mengering.
3. Hama Kutu Daun
Serangan kutu daun (biasanya dari jenis Aphis gossypii dan Myzuspersicae) mirip  vampire, mereka akan menghisap cairan dalam daun sampai habis.  Akibatnya daun mengering dan keriting
a. Pola Serangan
Kutu DaunSelain menghisap cairan dalam daun, hama ini doyan sekali membawa penyakit lain.  Kutu daun akan membawa penyakit lain (sebagai vektor) seperti virus dan mengeluarkan cairan berwarna kuning kehijauan yang mengundang datangnya semut dan jamur hingga menimbulkan lapisan hitam seperti jelaga di permukaan daun.
b.  Pengendalian
  • Secara teknis, petik dan musnahkan daun-daun yang sudah terserang.  Hindari menanam cabe yang berdekatan dengan tanaman semangka, melon dan kacang panjang. Perhatikan juga kebersihan kebun.  Penggunaan mulsa perak juga cukup effektif untuk mengendalikan hama ini.
  • Lakukan penyemprotan menggunakan PHEFOC di sore hari agar effektif.
4.  Hama Tungau
Serangan tungau kuning (Polyphagustarsonemus), atau tungau merah (Tetranycus sp) akanTungaumenyebabkan daun keriting melinting ke bawah seperti bentuk sendok terbalik.  Daun akan kaku dan tebal, pertumbuhan pucuk menjadi terhambat, daun perlahan akan berubah warna menjadi coklat dan akhirnya mati.
a. Pola Serangan dan Penyebaran
Serangan banyak terjadi padamusim kering, di area ternaungi. Nah ini yang perlu diwaspadai, populasi akan meningkat jika kita terlalu banyak menggunakan pestisida atau pupuk daun kimia buatan yang banyak mengandung belerang (sulfur). Penyebaran dapat terjadi melalui tangan para pekerja atau terbawa angin.
b. Pengendalian
Secara teknis lakukan pencabutan tanaman cabe yang sudah terserang parah sedangkan yang belum parah dipotong pucuk-pucuknya. Sisa tanaman yang terserang dibakar agar tidaktungau1menjangkiti yang lain. Untuk mencegahnya, usahakan areal penanaman cabe tidak berdekatan dengan tanaman singkong. Menjaga kebersihan kebun ternyata effektif mengurangi serangan tungau….bersih pangkal sehat juga berlaku di sini.
Pada serangan hebat, penyemprotan dengan insektisida kurang effektif, namun cukup effektif dengan menggunakan racun tungau tapi berbahaya.  Pengendalian yang disarankan adalah sanitasi yang baik.
5. Hama Thrips atau Trips
ThripsCiri-ciri dari tanaman cabe yang terserang trips pada daunnya akan terlihat garis-garis keperakan, terdapat bercak-bercak kuning hingga kecoklatan dan pertumbuhannya kerdil. Bila dibiarkan daun akan kering dan mati. Serangan trips biasanya menghebat pada musim kemarau. Hama ini juga berperan sebagai pembawa virus dan mudah sekali menyebar.
Pengendalian secara  teknis bisa dengan memanfaatkan predator alami hama ini, seperti kumbang dan kepik. Pemakaian mulsa dan menjaga kebersihan kebun (ingat,..bersih pangkal sehat ya) effektif menekan perkembangannya. Selain itu, rotasi tanaman membantu mengendalikan hama jenis ini. Penyemprotan dilakukan bila serangan meluas. Gunakan PHEFOC dan lakukan penyemprotan pada sore hari.
6. Siput atau Keong Racun
Harap waspada terhadap serangan hama ini, terutama di musim hujan. Pada awalnya mungkin tidak kita sadari serangannya, namun perlahan helai demi helai daun tiba-tiba berubah menjadi kuning dan berguguran.
Jangan membayangkan bahwa ukuran siput yang menyerang dalam ukuran besar (seperti yang sering kita lihat), ukuran siput yang menyerang adalah berukuran sangat kecil alias siput-siput ‘balita’. Lihat gambar berikut, siput kecil ditemukan di bawah daun sedang asyik ‘menyerang’
IMG_20160412_070441
Gambar berikut menunjukkan, lama-lama apabila dibiarkan semua daun menguning dan berguguran :
IMG_20160412_070456
Untuk mengusirnya, coba lakukan penyemprotan dengan PHEFOC ditambah ekstrak cabe. Siput juga ternyata tidak tahan pedas.
Penyakit-penyakit
Waduh, bagaimana ini ? Hama saja sudah cukup banyak, sekarang selain adanya hama ada pula penyakit-penyakit yang dapat menyerang tanaman cabe. Penyakit-penyakit ini bisa disebabkan oleh virus, bakteri maupun jamur.  Dan parahnya, penyakit-penyakit ini seringberkolaborasi atau berasosiasi dengan datangnya hama. Berikut adalah beberapa penyakit yang perlu kita kenal :
1. Antraknosa (Patek)
a. Pola Serangan dan Penyebaran
antraknosa (patek)Sumber penyakit ini disebabkan oleh cendawanColletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides. Sumbernya dapat berasal dari sisa tanaman sakit atau dari benih yang sudah terinfeksi.  Akibatnya serangan dapat terjadi mulai pada fase pembibitan.  Penyakit ini menyebabkan kecambah layu saat disemaikan. Sedangkan pada fase dewasa serangan menyebabkan mati pucuk, serangan pada daun dan batang menyebabkan busuk kering. Sementara itu, serangan pada buah akan menyebabkan buah menjadi busuk seperti terbakar.
Penyebaran bisa terjadi melalui tangan para pekerja, percikan air, hujan dan angin serta tangan pemetik buah.
b. Pengendalian
Penyakit ini bisa terbawa dari benih atau biji cabe. Pencegahan bisa dilakukan dengan memilih benih yang sehat dan bebas patogen. Lakukan treatment benih dengan memakai PHEFOC dan SOT (baca DI SINI). Kondisi tajuk jangan terlalu lembab dan jangan terlalu berlebih menggunakan pupuk buatan dengan kandungan Nitrogen (N). Tanah dengan kandungan Ca (Calsium) rendah juga dapat memicu perkembangan. Pengendalian bisa dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terserang dan penyemprotan dengan menggunakan PHEFOC.
2. Penyakit Bercak Daun Cercospora
Bercak Daun Cercosporaa. Pola Serangan
Penyakit bercak daun yang menyerang tanaman cabe disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Ciri-ciri tanaman yang terserang ditandai dengan  terdapatnya  bercak-bercak bundar berwarna abu-abu dengan pinggiran coklat pada daun. Bila serangan menghebat daun akan berwarna kuning dan akhirnya berguguran. Penyakit ini biasanya menyerang pada musim hujan dimana kondisi kelembaban cukup tinggi.
Penyakit ini menyebar saat jamur masih berupa spora dan bisa dibawa oleh angin, air hujan, hama vektor, dan alat pertanian. Spora jamur juga bisa menempel pada benih atau biji cabe.
b. Pengendalian
  • Pengendalian terbaik adalah dengan melakukan pencegahan. Pencegahan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan memilih benih yang sehat bebas patogen.
  • Merenggangkan jarak tanam juga berguna meminimalkan serangan agar lingkungan tidak terlalu lembab.
  • Pengendalian teknis bisa dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terinfeksi dengan cara dibakar. Bila serangan menghebat bisa dilakukan penyemprotan fungisida PHEFOC.
3. Penyakit Layu
Serangan penyakit layu ini sangat ditakuti karena sangat sulit dikendalikan.  Penyakit layu ini  bisa ditumbulkan oleh beragam penganggu tanaman seperti berbagai jenis cendawan dan bakteri. Terdapat dua jenis penyakit layu, yaitu layu fusarium dan layu bakteri.
layu fusarium cabe
a. Layu Fusarium
  • Layu yang disebabkan oleh cendawan disebut layu fusarium (gambar kanan). Jenis cendawannya adalah Fusarium sp., Verticilium sp. dan Pellicularia sp. Cendawan ini hidup di lingkungan yang masam
  • Layu fusarium dapat bersumber dari sisa  tanaman sakit atau tanah.  Penularan dapat melalui aliran air dan tanah
  • Beberapa pemicu perkembangan penyakit layu fusarium  : tanah berpasir, pupuk N (ZA) yang terlalu terlalu tinggi, kandungan unsur Mn dan Fe dalam tanah terlalu tinggi,  kurang pupuk organik bokashi, tanah kekurangan calsium (Ca), dan jumlah nematoda yang tinggi
b. Layu Bakteri
layu bakteri cabe
  • Sedangkan layu bakteri (gambar kiri) disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Bakteri ini hidup di jaringan batang.
  • Penyakit bersumber dari tanah
  • Cara menular sama dengan layu fusarium
  • Pemicu perkembangan penyakit layu bakteri dapat disebabkan oleh : lahan yang terlalu basah,  tanah terlalu liat, penggunaan pupuk N (urea) terlalu tinggi, populasi nematoda yang tinggi, atau sebelumnya lahan ditanami tembakau, terung, tomat, atau     cabe yang pernah terserang.
Pengendalian penyakit layu harus diamati dan dianalisa dengan lebih spesifik lagi agar penanganannya bisa lebih tepat dengan memperhatikan pemicu perkembangannya dan harus dilakukan pengendalian secara terpadu sejak mulai pembibitan dan persiapan lahan.
4. Penyakit Keriting Daun atau Mosaik
Mosaic KetimunAsal serangan penyakit mosaik adalah virus Cucumber Mosaic Virus (CMV). Gejalanya, pertumbuhan menjadi kerdil, warna daun belang-belang hijau tua dan hijau muda, ukuran daun lebih kecil, tulang daun akan berubah menguning.
Penyakit ini bisa menyebar dan menular ke tanaman lain oleh aktivitas serangga. Penyemprotan kimia bertujuan untuk menghilangkan serangga bukan penyakitnya. Untuk mengurangi penyakit, musnahkan tanaman cabe yang kondisinya telah parah terserang.
Pemilhan benih tahan virus membantu menghindari resiko serangan penyakit ini. Hal lain yang bisa membantu mengurangi resiko serangan adalah pemupukan yang baik dan tepat dengan menggunakan SOT dan PHEFOC.
5. Penyakit Virus Kuning
a. Pola Serangan dan Penyebaran
virus kuningPenyakit ini disebabkan oleh Gemini virus  Tanaman cabe yang terserang virus kuning, daun dan batangnya akan terlihat menguning (sesuai dengan namanya..). Penyakit ini disebut juga penyakit bule atau bulai. Penyakit ini bisa dibawa dari benih atau biji dan ditularkan oleh kutu.  Sumbernya bisa dari gulma, atau tanaman sakit lainnya (cabai, tomat)
b. Pengendalian
Penyakit yang disebabkan virus tidak akan mempan dengan penyemprotan racun-racun kimia. Pengendalian harus dilakukan sejak dini, dengan memilih benih unggul dan tahan serangan virus. Selain itu bisa juga dengan membasmi hama yang menjadi vektornya, seperti kutu.
Untuk menaikkan daya tahan tanaman cabe terhadap serangan virus kuning, bisa dengantreatment benih memakai PHEFOC dan mengintensifkan pemupukan, yaitu dengan penggunaan pupuk organik cair SOT HCS yang mengandung zat hara makro dan mikro lengkap. Tujuannya agar tanaman cabe tumbuh subur sehingga lebih tahan terhadap patogen.
6. Penyakit Busuk Batang, Akar dan Buah
Rebah semai
a. Pola Serangan
Terdapat dua macam penyakit busuk yang biasa menyerang tanaman cabe, yakni busuk batang dan busuk kuncup. Busuk batang pada tanaman cabe disebabkan oleh Phytophthora capsici. Menyerang saat musim hujan dan penyebarannya sangat cepat.
Busuk kuncup disebabkan oleh cendawanChoanosearum sp. Penyakit ini masih jarang dijumpai di Indonesia. Gejalanya, kuncup tanaman berwarna hitam dan lama kelamaan mati.
Pemicu perkembangan penyakit ini dapat berupa :
  • drainase yang kurang baik
  • penggunaan pupuk N (Urea) yang  terlalu tinggi
  • pupuk kandang tidak matang (makanya sebaiknya pakai pupuk bokashi)
  • banyak nematoda
  • sebelumnya lahan ditanam cabe atau mentimun
Penyakit ini bisa dikendalikan dengan mengurangi dosis pemupukan Nitrogen seperti urea dan ZA.  Penggunaan pupuk organik seperti SOT HCS. Kemudian mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara berjalan lancar. Tanaman yang sudah terinfeksi sebaiknya dicabut dan dibakar. Penyemprotan bisa dilakukan dengan fungisida PHEFOC.
———
Demikian beberapa jenis hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman cabe.  Pengendalian secara terpadu lebih disarankan.  Artinya, pengendalian dilakukan sejak awal pembenihan, penanaman dan pemeliharaan dengan melakukan berbagai cara secara bersamaan.  Pilih bibit yang bagus dan lebih tahan, pengolahan lahan yang baik, penggunaan pupuk bokashi, SOT dan PHEFOC secara seimbang dan tepat, dan jangan melupakan sanitasi lingkungan…karena tetap, bersih pangkal sehat.  Semoga dapat membantu dan sukses…

Daftar Pustaka :
– Djafaruddin, Prof, Ir ‘Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman’, Bumi Aksara, 2008
– Alam tani, hama dan penyakit tanaman cabe
– Anonim, Hama dan penyakit cabai (ppt)


Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Cabe

Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Cabe


Saat ini, tanaman cabe menjadi tanaman primadona, karena harga jualnya terkadang melambung tinggi sehingga para petani dapat menangguk untung besar. Pada saat panen raya, harga cabe biasanya turun, namun pada saat produksi merosot tajam karena gagal panen, harga bisa melambung fantastis. Inilah yang seringkali diharapkan petani agar pada masa panennya bertepatan dengan harga tinggi.Oleh karena itu, banyak petani cabe yang mulai berhitung untuk menentukan kapan harus bertanam cabe yang tepat.Selain jenis cabe yang unggul dan pemupukan yang baik, penting pula untuk mengantisipasi hama dan penyakit tanaman cabe yang seringkali menurunkan produktifitas tanaman. Hama dan penyakit tanaman cabe cukup banyak, sehingga para petani cabe harus intensif merawat tanaman cabe.

Di musim kemarau, tanaman diintai lalat buah serta kutu daun yang dapat merusak buah. Sedangkan di musim hujan, tanaman terancam oleh antraknose, jamur dan pseudomonas solanaceanum. Untuk mengatasi lalat buah dan kutu daun, semprotkan pestisida dua minggu sekali setelah tanaman pindah ke pot, dan untuk mengatasi penyakit akibat antraknose, jamur dan bakteri bisa dengan penyemprotan fungisida satu hingga dua minggu sekali. Untuk pemanenan, cabe yang sudah berwama merah sebagian berarti sudah dapat dipanen. Ada juga petani yang sengaja memanen cabenya pada saat masih muda (berwarna hijau). Pemetikan dilakukan dengan hati-hati agar percabangan/tangkai tanaman tidak patah.

Hama dan penyakit menjadi faktor penyebab menurunnya produktifitas tanaman. Pada musim penghujan serangan hama dan penyakit tanaman cabe meningkat. Jika hama dan penyakit tersebut tidak dikendalikan secara baik, maka dapat menyebabkan petani mengalami kerugian. Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabe dianjurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Pengendalian Hama dan Penyakit secara terpadu antara lain meliputi; pengendalian kultur teknik, hayati (biologi), varietas tahan penyakit, fisik dan mekanik, dan cara kimiawi.

A. Hama

1. Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Ulat merupakan jenis hama yang akan menjadi kupu-kupu yang biasanya meletakkan telur secara berkelompok di atas daun atau tanaman. Ciri khas dari larva (ulat) grayak ini adalah terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris-garis kekuningan pada sisinya. Larva akan menjadi pupa (kepompong) yang dibentuk di bawah permukaan tanah. Daur hidup dari telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30 - 61 hari. Telur akan menetas menjadi ulat (larva), mula-mula hidup berkelompok dan kemudian menyebar. Menyerang bersama-sama dalam jumlah yang sangat banyak. Ulat ini memangsa segala jenis tanaman (polifag), termasuk menyerang tanaman cabe. Serangan ulat grayak terjadi di malam hari, karena kupu-kupu maupun larvanya aktif di malam hari. Pada siang hari bersembunyi di tempat yang teduh atau di permukaan daun bagian bawah. Hama ulat grayak merusak di musim kemarau dengan cara memakan daun mulai dari bagian tepi hingga bagian atas maupun bawah daun cabe. Serangan hama ini menyebabkan daun-daun berlubang secara tidak beraturan; sehingga menghambat proses fotosintesis dan akibatnya produksi buah cabe menurun.



Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : mekanis, yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya dan langsung dibunuh. Secara kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama, serta melakukan rotasi tanaman. Hayati (biologis) kimiawi, yaitu disemprot dengan insektisida berbahan aktif Bacilus thuringiensis. Sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu) jantan. Sex pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan sexual (birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan perkawinan sehingga membuahkan keturunan. Sex pheromone dari Taiwan yang di Indonesia diberi nama "Ugratas" atau Ulat Grayak Berantas Tuntas berwarna "merah" sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa ulat grayak. Cara pemasangan Ugratas merah ini adalah dimasukkan ke dalan botol bekas aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-kupu jantan. Untuk 1 hektar kebun cabe cukup dipasang 5-10 buah Ugratas merah, dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas tanaman cabe.

2. Kutu Daun (Myzus persicae Sulz.)

Kutu daun atau sering disebut Aphid tersebar di seluruh dunia. Hama ini memakan segala jenis tanaman (polifag), lebih dari 100 jenis tanaman inang, termasuk tanaman cabe. Kutu daun berkembang biak dengan 2 cara, yaitu dengan perkawinan biasa dan tanpa perkawinan atau telur-telurnya dapat berkembang menjadi anak tanpa pembuahan (partenogenesis). Daur hidup hama ini berkisar antara 7 - 10 hari. Hama ini menyerang tanaman cabe dengan cara mengisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga ataupun bagian tanaman lainnya. Serangan berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya rontok sehingga produksi cabe menurun.

Kehadiran kutu daun di kebun cabe, tidak hanya menjadi hama tetapi juga berfungsi sebagai penular (penyebar) berbagai penyakit virus. Di samping itu, kutu daun mengeluarkan cairan manis (madu) yang dapat menutupi permukaan daun. Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga menghambat proses fotosintesis. Serangan kutu daun menghebat pada musim kemarau. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara : Kultur teknik, yaitu menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabe, misalnya jagung. Kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida yang efektif dan selektif seperti Deltamethrin 25 EC pada konsentrasi 0,1 - 0,2 cc/liter, Decis 2,5 EC 0,04%, Hostathion 40EC 0,1% atau Orthene 75 SP 0,1%.



3. Lalat Buah (Dacus ferrugineus)

Hama ini menyebabkan buah cabe mengalami kebusukan. Buah cabe yang diserang lalat buah akan menjadi bercak-bercak bulat, berlubang kecil dan kemudian membusuk. Buah cabe yang terserang akan dihuni larva yang menyebabkan semua bagian buah cabe rusak, busuk, dan berguguran (rontok). Serangga dewasa panjangnya kurang lebih 0.5 cm, berwarna coklat-tua, dan meletakkan telurnya di dalam buah cabe. Telur tersebut akan menetas, kemudian merusak buah cabe. Daur hidup hama ini lamanya sekitar 4 minggu, dan pembentukan stadium pupa terjadi di atas permukaan tanah.

Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara: kultur teknik, yaitu dengan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang lalat buah; secara mekanis yaitu dengan memusnahkan buah cabe yang terserang lalat buah, secara kimiawi yaitu dengan pemasangan perangkap beracun "metil eugenol" atau protein hydrolisat yang efektif terhadap serangga jantan maupun betina. Atau, disemprot langsung dengan insektisida seperti Buldok, Lannate ataupun Tamaron.

4. Thrips (Thrips sp.)

Gejala serangan yang ditimbulkan oleh thrips adalah awalnya timbul noda-noda keperakan pada daun-daun muda, akibat adanya luka bekas serangan thrips. Noda-noda keperakan tersebut berubah menjadi coklat. Serangan berat dapat menyebabkan daun-daun mengeriting ke atas. Serangga ini mempunyai tipe mulut pemarut dan pengisap. Ia memarut jaringan daun atau bunga dan mengisap cairan yang keluar dari bagian itu. Serangan pada bunga sudah mekar akan timbul bercak cokelat. Sedangkan pada bunga masih kuncup, thrips menyebabkan bunga gagal mekar. Thrips memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Serangga dewasa berukuran kecil, panjang 0,8 mm – 0,9 mm, berwarna kuning kecoklatan kehitam-hitaman. hama ini berkembang biak secara tak kawin (partenogenesis). Telur berbentuk oval, diletakkan di dalam jaringan daun. Nimfa berwarna putih dan sangat aktif, diikuti dengan periode pre pupa dan kemudian pupa. Pupa dibentuk dalam tanah, kemudian menjadi serangga dewasa. Daur hidup berkisar antara 7 – 12 hari di dataran rendah, dan berkembang pesat populasinya pada musim kering (kemarau). Spesies Thrips yang sering ditemukan adalah T. tabaci yang hidupnya bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag).

Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, yaitu dengan pergiliran tanaman atau mengatur rotasi tanaman yang bukan sefamili, dan mengatur waktu tanam yang tepat, menggunakan mulsa plastik hitam perak pada lahan tanam. Pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan disemprot insektisida berbahan aktif asetat, dimetoat, endosulfat, formothion, karbaril, merkaptodimetur, dan metomil. Dosis dan waktu pemberian yang tepat dapat menekan populasi thrips. Beberapa bahan insektida yang biasa digunakan oleh para petani antara lain adalah; Deltamethrin 25 EC 0,1-0,7 cc/lt, Triazophos 40 EC 0,5-2,0 cc/lt, Endosulfan 25 EC 0,5-2,0 cc/lt, atau juga Decis 2,5 EC (0,04%), Hostathion 20 EC (0,2%) maupun Mesurol 50 WP (0,1-0,2%), Pegasus 500 SC atau Perfekthion 400 EC, pada waktu sore hari.

5. Tungau (Tarsonemus translucens)

Tungau berukuran sangat kecil, tetapi bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga dewasa panjangnya + 1 mm, bentuk mirip laba-laba, dan aktif di siang hari. Siklus hidup tungau berkisar selama 14-15 hari. Tungau menyerang tanaman cabe dengan cara mengisap cairan sel daun atau pucuk tanaman. Akibat serangannya dapat menimbulkan bintik-bintik kuning atau keputihan. Serangan yang berat, terutama di musim kemarau, akan menyebabkan cabe tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan cara disemprot insektisida akarisasi seperti Omite EC (0,2%) atau Mitac 200 EC (0,2%).

B. Penyakit

1. Patek

Penyakit patek atau antraks sering kali dijumpai tanaman cabe. Penyakit patek cukup berbahaya dan cepat menjalar, sehingga mampu menurunkan produktifitas yang signifikan. Penyakit patek disebabkan oleh cendawan Colletotricum capsici danColletotricum piperatum, bercak daun (Cercospora capsici). Gejala serangan antraks atau patek ialah bercak‐bercak pada buah, buah kehitaman dan busuk kering pada buah, dan akhirnya rontok. Penyakit busuk buah kering yang disebabkan cendawan untuk mengatasinya dapat menggunakan fungisida seperti Antracol dan dilakukan sesuai dengan dosis sesuai petunjuk penggunaan pada produk.

2. Keriting Daun

Penyakit kuning keriting sangat sulit diberantas, apalagi dihilangkan sampai 0%. Upaya yang dilakukan hanya sebatas pengendalian risiko, untuk mencapai ambang toleransi penyakit agar tidak merugikan atau memperkecil kerugian produksi cabe.Gejala penyakit tanaman cabe pada umumnya berwarna mosaik kuning atau hijau muda mencolok. Kadang-kadang pucuk menumpuk keriting diikuti dengan bentuk helaian daun menyempit atau cekung, tanaman tumbuh tidak normal menjadi lebih kerdil dibandingkan dengan tanaman sehat. Kedua gejala penyakit di atas, kuning dan hijau keriting sering pula ditemukan secara bersamaan dalam satu varietas pada lahan yang sama. Di lapang gejala ditemukan dalam berbagai stadium dari mulai gejala awal seperti urat daun kekuningan pada pucuk sampai seluruh daun bergejala kuning. Penyakit ini diketahui pada beberapa varietas cabe cukup merugikan, hasil panen berkurang sampai terjadi puso, terutama pada tanaman yang terinfeksi sejak masa tanaman masih sangat muda. Pada tanaman cabe rawit yang terserang sampai 100% masih mampu menghasilkan buah walaupun sedikit, sedangkan pada cabe besar yang terserang penyakit ini menhasilkan buah yang sangat sedikit.

Bercak daun ialah bercak‐bercak kecil yang akan melebar. Pinggir bercak berwama lebih tua dari bagian tengahnya. Pusat bercak ini sering robek atau berlubang. Daun berubah kekuningan lalu gugur. Serangan keriting daun sesuai namanya ditandai oleh keriting dan mengerutnya daun, tetapi keadaan tanaman tetap sehat dan segar. Selain penyakit keriting daun, penyakit lainnya dapat dicegah dengan penyemprotan fungisida Dithane M 45, Antracol, Cupravit, Difolatan. Bila tanaman diserang penyakit keriting daun maka tanaman dicabut dan dibakar, karena pengendalian keriting daun secara kimia masih sangat sulit.

Inti pengendalian penyakit kuning keriting pada tanaman cabe adalah upaya terpadu untuk menghalangi terjadinya infeksi terutama pada waktu tanaman masih muda. Pengendalikan penyakit kuning keriting adalah sebagai berikut: mengisolasi persemaian dengan kerodong yang kedap kutu kebul (+ 50 ), menggunakan mulsa plastik perak pada pertanaman di areal tanam, memantau tanaman muda sampai umur 30-35 hari, segera memusnahkan tanaman cabe yang terserang awal penyakit kuning keriting, tanaman yang dicabut segera disulam dengan semaian yang sehat, menggunakan insektisida selektif seperti imidaklorpid atau insektisida sejenis agar musuh alami predator tidak ikut termusnahkan, menyiangi gulma, pemeliharaan kebun dengan baik sesuai anjuran dan selalu memantau perkembangan serta mengendalian penyakit dan hama penting lainnya, gunakan varietas yang tahan terhadap keriting daun, dan lain-lain.

3. Layu Bakteri (Pseudomonas solana-cearum E.F. Smith)

Tanaman yang terserang Layu Bakteri akan menunjukan gejala layu pada batang dan daun tanaman, mulai dari bagian pucuk, kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman. Daun menguning dan akhirnya mengering serta rontok dan akhirnya mati. Penyakit layu bakteri dapat menyerang tanaman cabe pada semua tingkatan umur, tetapi paling peka adalah tanaman muda atau menjelang fase berbunga maupun berbuah.

Bakteri layu biasanya menghebat pada tanaman cabe di dataran rendah. Pengendalian penyakit bakteri layu harus dilakukan secara terpadu, yaitu: Perlakuan benih atau bibit sebelum tanam dengan cara direndam dalam bakterisida Agrimycin atau Agrept 0,5 gr/lt selama 5-15 menit. Perbaikan drainase tanah di sekitar kebun agar tidak becek atau menggenang. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menular ke tanaman yang sehat. Penggunaan bakterisida Agrimycin atau Agrept dengan cara disemprotkan atau dikocor di sekitar batang tanaman cabe tersebut yang diperkirakan terserang bakteri P. solanacearum. Selain itu juga dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan (manajemen) lahan, misalnya dengan pengapuran tanah ataupun pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae.

4. Layu Fusarium (Fusarium oxysporum Sulz.)

Gejala serangan yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan warna tulang-tulang daun di sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai-tangkai daun; sehingga akibat lebih lanjut seluruh tanaman layu dan mati. Gejala kelayuan tanaman seringkali sulit dibedakan dengan serangan bakteri layu (P. solanacearum). Layu Fusarium disebabkan oleh organisme cendawan bersifat tular tanah. Biasanya penyakit ini muncul pada tanah-tanah yang ber-pH rendah (masam). Untuk membuktikan penyebab layu tersebut dapat dilakukan dengan cara memotong pangkal batang tanaman yang sakit, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening (jernih). Biarkan rendaman batang tadi sekitar 5-15 menit, kemudian digoyang-goyangkan secara hati-hati. Bila dari pangkal batang keluar cairan putih dan terlihat suatu cincin berwarna coklat dari berkas pembuluhnya, hal itu menandakan adanya serangan Fusarium.

Pengendalian penyakit layu Fusarium dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: Perlakuan benih atau bibit dengan cara direndam dalam larutan fungisida sistemik, misalnya Benlate ataupun Derosal 0,5-1,0 gr/lt air selama 10-15 menit. Pengapuran tanah sebelum tanam dengan Dolomit atau Captan (Calcit) sesuai dengan angka pH tanah agar mendekati netral. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang sehat. Pengaturan pembuangan air (drainase), dengan cara pembuatan bedengan yang tinggi, terutama pada musim hujan. Penyiraman larutan fungisida sistemik seperti Derosal, Anvil, Previcur N dan Topsin di sekitar batang tanaman cabe yang diduga sumber atau terkena cendawan. Bercak Daun dan Buah (Collectro-tichum capsici (Syd). Butl. et. Bisby). Bercak daun dan buah cabe sering disebut penyakit Antraknose atau "patek". Penyakit ini menjadi masalah utama di musim hujan. Disebabkan oleh cendawan Gloesporium piperatumdan Colletotrichum capsici. Cendawan G. piperatum umumnya menyerang buah muda dan menyebabkan mati ujung.

5. Bercak Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf)

Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora capsici. Gejala serangan penyakit ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan. Berikutnya bercak akan meluas dengan garis tengah + 0,5 cm. Di pusat bercak nampak berwarna pucat sampai putih dan pada bagian tepinya berwarna lebih tua. Serangan yang berat (parah) dapat menyebabkan daun menguning dan gugur, ataupun langsung berguguran tanpa didahului menguningnya daun. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara berselang-seling.

6. Bercak Alternaria (Alternaria solani Ell & Marf)

Penyebab penyakit bercak Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini adalah ditandai dengan timbulnya bercak-bercak coklat-tua sampai kehitaman dengan lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun yang paling bawah, dan kadang-kadang juga menyerang pada bagian batang. Pengendalian penyakit bercak Alternaria antara lain dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Cupravit, Dithane M-45 dan Score, secara berselang-seling.

7. Busuk Daun dan Buah (Phytophthora spp)

Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabe. Gejala serangan tampak pada daun yaitu bercak-bercak kecil di bagian tepinya, kemudian menyerang seluruh batang. Batang tanaman cabe juga dapat terserang penyakit ini, ditandai dengan gejala perubahan warna menjadi kehitaman. Buah cabe yang terserang menunjukkan gejala awal bercak-bercak kebasahan, kemudian meluas, dan akhirnya buah akan terlepas dari kelopaknya karena membusuk. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak tanam yang baik, yaitu di musim hujan idealnya 70 x 70 cm, mengumpulkan buah cabe yang busuk untuk dimusnahkan, dan disemprot fungisida seperti Sandovan MZ, Kocide atau Polyram secara berselang-seling.

8. Virus

Penyakit virus pada tanaman cabe di pulau Jawa dan Lampung ditemukan adanya Cucumber Mosaic Virus (CMV), Potato Virus Y (PVY), Tobacco Etch Virus (TEV),Tobacco Mosaic Virus (TMV), Tobacco Rattle Virus (TRV), dan juga Tomato Ringspot Virus (TRSV). Gejala penyakit virus yang umum ditemukan adalah daun mengecil, keriting, dan mosaik yang diduga oleh TMV, CMV dan TEV. Penyebaran virus biasanya dibantu oleh serangga penular (vektor) seperti kutu daun dan Thrips. Tanaman cabe yang terserang virus seringkali mampu bertahan hidup, tetapi tidak menghasilkan buah.

Pengendalian penyakit virus ini dapat dilakukan dengan cara : Pemberantasan serangga vektor (penular) seperti Aphids dan Thrips dengan semprotan insektisida yang efektif. Tanaman cabe yang menunjukkan gejala sakit dan mencurigakan terserang virus dicabut dan dimusnahkan. Melakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae.

9. Penyakit Fisiologis

Merupakan keadaan suatu tanaman menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh penyakit fisiologis pada tanaman cabe yang paling sering ditemukan adalah kekurangan unsur hara Kalsium (Ca), dan terbakarnya buah cabe akibat sengatan sinar matahari. Tanaman cabe yang kekurangan unsur Ca akan menunjukkan gejala pada buahnya terdapat bercak hijau-gelap, kemudian menjadi lekukan bacah coklat kehitam-hitaman. Jaringan di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian dalam buah. Bentuk buah cabe menjadi pipih dan berubah warna lebih awal (sebelum waktunya). Biasanya kekurangan Ca pada stadium buah rusak akan diikuti tumbuhnya cendawan. Usaha pencegahan kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti pemupukan berimbang, dan pengairan kebun secara merata. Bila tanaman cabe sedang masa berbuah tetapi menunjukan gejala kekurangan Ca, maka dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak mengandung unsur Ca.


C. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Secara Organik

Teknik pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida umum digunakan oleh para petani. Penggunaan pestisida sangat efektif untuk membasmi hama dan penyakit tanaman cabe. Pestisida merupakan bahan kimia yang dapat membunuh hama dan penyakit tanaman cabe, namun disisi lain bahan kimia tersebut juga dapat mencemari buah cabe sebagai produk pangan. Pestisida merupakan racun yang berbahaya bagi manusia, hewan peliharaan, dan lingkungan bila salah dalam penggunaannya. Penggunaan bahan-bahan berbahaya yang tidak diorientasikan sebagai pestisida hendaklah tidak dilakukan seperti formalin dan lain-lain. Penggunaan pestisida harus sesuai dosis yang dianjurkan, tepat waktu, tepat cara, tepat sasaran dan tepat guna.

Penggunaan pestisida secara kimia harus ditekan sedikit mungkin. Penggunaan pestisida kimia selain tidak baik bagi kesehatan konsumen, juga semakin lama hama dan penyakit menjadi resisten. Oleh karena itu, pertanian organic penting untuk digalakan. Kita dapat menggunakan agen mikrobia bahan bahan alami yang aman untuk mengendalikan hama dan penyakit. Beberapa jenis mikrobia yang sering digunakan sebagai agen pestisida pada sektor pertanian adalah antara lain;

No
Jenis Mikrobia
Jenis Pathogen
Jenis Tanaman
1
Bacillus thuringiensis
Lepidoptera ( Pluetella xylostella, Pieris rapae, Helicoverpa zea, Denddrolimus punctatus, Oristrina nubialis)
Sayuran, kapas, tanaman buah, padi, jagung, tanaman hias, tanaman hutan.
2
Beauveria bassiana
Coleoptera, Homoptera, Lepidoptera, Diptera
Tanaman kopi, bunga, sayuran, dll.
3
Beauveria brongniartii
Coleoptera, Homoptera, Lepidoptera, Diptera.
Tanaman bunga, kelapa sawit, tanaman budidaya lainnya.
4
Gliocladium virens
Layu semai ( Phytium, Rhizoctonia, Sclerotinia, Sclerotium, Fusarium spp)
Tanaman hias, sayuran, tanaman budidaya
5
Leginidium giganteum
Larva semua jenis nyamuk
Sawah, lahan basah, kolam, danau.
6
Metharizium anisopliae
Lepidoptera, Coleoptera, Homoptera, Orthoptera
Tanaman bunga, sayuran, kentang, lahan rumput, tanaman budidaya.
7
Myrothecium verrucaria
Cacing parasit
Tanaman hias, kubis, jeruk, turf
8
Trichoderma harzianum
Fusarium, Rhizoctonia, Alternaria, Rosellinia, Botrys, Sclerotium, Phytoptora sp.
Tanaman bunga, sayuran, buah, tanaman budidaya.
9
Pseudomonas fluorescens
Erwinia amylovora
Fusarium
Tanaman buah apel, ceri,pear, kentang, tomat,
10
Trichorderma coniingii
Jamur akar putih
Tanaman karet
11
Pseudomonas syringae
Organism pathogen lepas panen
Buah apel, pear, jeruk
12
Streptomyces griseoviridis
Jamur tular tanah (Fusarium sp, Alternaria, Rhizoctonia sp., Phomopsis sp. Phytium sp. Botrytis sp.)
Tanaman budidaya
13
Tricodherma viridae
Rhizotonia sp. Phytium sp. Fusarium sp.
Tanaman budidaya
14
Bacillus substillis
Rhizotonia sp. Phytium sp. Fusarium sp. Aspergillus sp.
Tanaman budidaya
15
Talaromyces flavus
Rhizotonia solani, verticilium dahliae
Busuk akar tanaman buah-buahan, tomat, mentimun.