Tampilkan postingan dengan label Tanaman Palawija. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanaman Palawija. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

BUDIDAYA JAGUNG


BUDIDAYA JAGUNG
 
I. PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

BOTANI JAGUNG


BOTANI JAGUNG
Klasifikasi Tanaman jagung


Tanaman jagung (Zea mays ) dilelasifikasikan sebagai berikut :
Divi                         : Spermatophyta
Sub Divi                : Agiospermae
Kelas                     : Monocotyledonae
Ordo                      : Rhoedelas
Family                   : Cruciferae
Species                 :Zea mays
Morfilogi Tanaman Jagung (zea mays)
a. Akar.
Sistem perakaran jagung terdiri dari akar-akar yang seminal tumbuh ke bawah saat biji berkecambah, akar koronal yang tumbuh ke atas jaringan batang setelah plamula muncul dari akar udara (brace) yang tumbuh dari buku-buku di atas permukaan tanah (Muhadjir,1998).
b. Batang.
Batang jagung beruas-ruas yang jumlahnya bervariasi antara 8-12 ruas. Panjang berkisar antara 60-300cm tergantung dari tipe jagung. Ruas-ruas bagian atas berbentuk agak silinder, sedangkan bagian bawahnya agak bulat pipih. Ruas batang yang telah berkembang menghasikkan tajuk bunga betina atau tongkol (Muhadjir,1998).
Batang jagung tidak berulang tetapi padatdan terisi oleh bekas-bekas pembuluh sehingga memperkuat tegaknya tanaman. Batang jagung beruas-ruas yang jumlahnya bervariasi antara 10-14 ruas, umumnya tak berkecambah, panjang batang berkisar antara 60-300cm tergantung dari jenis jagung (Effendi,1990).
c.  Daun.
Daun jagung muncul dari bu

Sabtu, 01 Desember 2012

BUDIDAYA JAHE

BUDIDAYA JAHE

I.    PENDAHULUAN
    Potensi
Tanaman Jahe merupakan salah satu tanaman rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia.   Jahe diekspor dalam bentuk jahe segar, jahe kering, jahe segar olahan dam minyak atsiri.   Dengan semakin berkembangnya perusahaan jamu dalam negeri bahkan telah melakukan ekspor kemancanegara maka peluang pengembangan jahe sebagai salah satu bahan baku pembuatan jamu menjadi sangat terbuka.  
Berdasarkan data stastistik perkebunan semester I tahun 1999 luas areal penanaman jahe di Kabupaten Sukabumi sebesar 1.176,65 Ha dan umumnya ditanam pada areal perkebunan rakyat.
Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu sentra produksi jahe di Jawa Barat sebenarnya mempunyai peluang yang cukup besar dalam pengembangan jahe.   Hal ini jika dilihat dari potensi daerah, penyediaan sarana pertanian dan banyaknya petani yang secara rutin menanam jahe.   Sesuai dengan kesesuaian lahan dan iklim, banyak tempat di Kabupaten Sukabumi yang cocok untuk penanaman jahe.   Begitu pula dengan sarana pertanian yang mudah didapatkan dan terutama banyak petani yang telah berpengalaman dalam perjahean.  
Walaupun demikian sampai saat ini petani belum mendapatkan nilai tambah yang maksimal dalam usahataninya atau dengan kata lain keuntungan usahatani jahe masih banyak dirasakan oleh pedagang pengumpul dan para eksportir.   Hal ini disebabkan karena para petani belum menguasai teknologi budidaya yang mutakhir dan masalah mutu hasil produksi.   Dengan demikian banyak ditemukan kegagalan dalam usahatani yang disebabkan oleh masalah hama/penyakit terutama penyakit busuk bakteri, harga yang tidak sesuai dan hasil produksi yang rendah.

KEGIATAN