Rabu, 02 Januari 2013

CARA MEMBUAT RANSUM SENDIRI


Cara Membuat Ransum Sendiri

Harga ransum jadi yang dijual di pasaran, umumnya tergolong mahal bagi peternak. Bahkan sejak tahun 70-an, harga ransum jadi selalu mengalami kenaikkan, hingga berdampak pada ketidakstabilan perkembangan ternak unggas. Untuk mengatasi permasalahan ini, sebenarnya peternak dapat membuat ransum sendiri dengan memanfaatkan bahan baku murah dan banyak tersedia di lokasi peternakan.
Untuk menghasilkan ransum sendiri juga harus dipertimbangkan dengan jumlah ternak yang dipelihara. Bila hanya sedikit, lebih baik membeli ransum jadi. Harga bahan baku, juga harus diperimbangkan karena hal ini berhubungan erat dengan ketersediaan bahan baku di pasaran.
Secara swadaya, peternak dapat membuat ransum dalam berbagai bentuk seperti bentuk pelet, butiran ataupu bentuk tepung. Bentuk ransum dapat disesuaikan dengan ketersediaan peralata. Sementara mutu ransum yang dihasilkan tergantung pada  pilihan komposisi bahan baku yang akan dimanfaatkan. Apabila komposisinya tepat, maka ransum yang akan dihasilkan pasti padat gizi dan sesuai dengan kebutuhan ternak.
A. Peralatan dan fungsinya
  • Sekop digunakan sebagai alat pengaduk (pencampur) bahan-bahan ransum
  • Penggilingan biji-bijian, digunakan untuk menghaluskan bahan baku ransum hingga berbentuk tepung.
  • Penggilingan daging dan ayakan, digunakan untuk membuat ransum dalam bentuk pelet dan butiran.
  • Kukusan, digunakan untuk mengukus. Kususan dapat dibuat dari drum atau dapat juga digunakan alat penanak nasi.
B. Cara Pembuatan
Pada dasarnya, cara membuat ransum jadi adalah penyatuan berbagai jenis bahan baku yang mengandung nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ternak.
1. Ransum bentuk tepung
Membuat ransum dalam bentuk tepung, sangatlah mudah dan sederhana. Caranya adalah bahan-bahan baku dihaluskan, ditakar sesuai dengan formula ransum, kemudian bahan-bahan tersebut dicampur. Cara pencampuran dilakukan mulai dari bahan yang paling sedikit hingga yang komposisinya paling besar. Campuran ransum dianggap merata apaabila tidak ada lagi bahan yang kelihatan dominan baik bentuk maupun aromanya. Ransum bentuk tepung selanjutnya dikemas dan disimpan dalam gudang penyimpanan.
2. Ransum bentuk pelet
Membuat ransum bentuk pelet, adalah kelanjutan dari ransum bentuk tepung. Mula-mula bahan disiapkan, digiling halus, ditakar, selanjutnya campurkan bahan kering terlebih dahulu yang dimulai dari bahan yang jumlahnya paling sedikit. Selanjutnya campurkan bahan-bahan cair dengan cara penyemprotan secara merata, aduk, kemudian dilanjutkan dengan proses penguapan (dikukus).
Untuk membentuk ransum menjadi pelet, digunakan penggilingan daging dengan ukuran lubang sekitar 2-5 mm. Setelah adonon digiling, hasilanya akan berupa batangan basah, potong batangan basah sepanjang 3 cm. Lakukan pemotongan ini pada saat penggilingan. Selanjutnya proses pengeringan, setelah kering, patahkan batangan ini sepanjang1-2 cm. Demikianlah proses pembuatan ransum bentuk pelet.
3.  Ransum bentuk butiran
Pembuatan ransum butiran hampir sama dengan pembuatan ransum bentuk tepung dan pelet. Jadi setelah bahan digiling halus, ditakar dan dicampur, langkah berikutnya adalah adonan di ayak. Caranya adalah : siapkan ayakan berlobang dengan diameter 3 – 4 cm, letakan adonan di dalam ayakan, kemudian adonan ditekan-tekan hinggabentuk butiran keluar dari dasar ayakan. Agar bentuk butirannya bagus, maka jangan biarkan hasil cetakan menumpuk, selanjutnya adalah proses pengeringan.
C. Pengemasan dan Penyimpanan
Untuk menjaga mutu ransum, sebaiknya ransum dikemas dalam kantung plastik dan disimpan dalam gudang atau tempat penyimpanan yang memiliki ventilasi yang baik. Waktu penyimpanan sebaiknya paling lama dua minggu. Di dalam gudang penyimpanan, sebaiknya karung-karung diatur dan disusun rapi.  Untuk menjaga agar karung tidak bersinggungan langsung dengan lantai, sebaiknya di bagian alasnya diberikan kayu. Hal ini bertujuan agar udara lembab dari lantai tidak langsung diserap dalam karung ransum. Selain lantai, dinding gudang penyimpanan yang terbuka perlu ditutupi dengan karung plastik. Hal ini dimaksudkan agar suhu dan kelembapan dalam gudang tetap stabil dan terjaga.

Sumber : Sudaro Yani, Siriwa Anita, Ransum Ayam dan Itik, Jakarta: Penebar Swadaya, 2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentarnya Disini...................