Selasa, 15 Januari 2013

BUDIDAYA TANAMAN GAHARU

BUDIDAYA TANAMAN GAHARU

BUDIDAYA TANAMAN GAHARU
DENGAN MODEL ROTASI DAN MULTIPLE CROPING


A.   Tujuan.
Tanaman gaharu tidak memerlukan suatu persyaratan tumbuh yang istimewa. Tanaman yang berasal dari hutan tropis ini tumbuh subur di daerah lahan tropis. Saat pohon gaharu berumur sekitar 5-8 tahun, pohon yang tumbuh seperti pohon hutan alam itu perlu disuntik dengan obat pemuncul getah. Panen dengan produksi optimal pada umur 10 tahun.
Selain dapat tumbuh di kawasan hutan, pohon gaharu juga dapat tumbuh di pekarangan warga. Karena itu sebenarnya warga memiliki banyak kesempatan untuk menanam pohon yang menghasilkan getah wangi ini. Beberapa jenis tumbuhan berpotensi untuk memproduksi gaharu sudah dieksplorasi. Jenis tumbuhan itu meliputi Aquilaria sppAetoxylon sympetallumGyrinops, dan Gonsystylus.
Berbagai jenis tumbuhan itu tersebar di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Tetapi, keberadaannya sekarang mulai langka.
Gaharu (Aquilaria Malaccensis)  mulai berproduksi  pada umur  5 tahun yaitu mulai dirangsang dengan dilukai dan diberi zat perangsang tumbuh getah. Budidaya gaharu yang diambil adalah mulai dari kayu, cabang dan paling utama adalah getahnya.
Teknik budi daya gaharu dengan cara penginfeksian jamur pembentuk gaharu ke dalam batang pohon potensial. Isolat jamur penginfeksi atau pembentuk gaharu sudah dieksplorasi Balitbang Kehutanan dengan hasil diperoleh dari genusFusarium dan Cylindrocarpon.
Saat ini diperoleh dari genus Fusarium sebanyak 23 isolat jamur. Empat isolat jamurFusarium paling cepat menginfeksi kayu berpotensi menjadi gaharu
Banyaknya getah yang dihasilkan dari pohon gaharu tergantung dari masa tanam dan panen pohon tersebut. Misalnya untuk usia tanam selama 9 sampai 10 tahun, setiap batang pohon mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram Gaharu itu sendiri sebagai hasil persenyawaan enzim jamur tertentu yang menginfeksi kayu jenis tertentu pula. Persenyawaan itu menghasilkan damar wangi yang kemudian dikenal sebagai gaharu.
Kayu yang mengandung damar wangi atau gaharu kategori paling bagus atau kelas super mencapai harga Rp 50 juta per kilogram. Melalui metode penyulingan, gaharu umumnya dimanfaatkan sebagai pewangi.
Selama ini gaharu alam yang paling bagus disebut gaharu super yang berwarna hitam pekat, padat, keras, mengilap, dan beraroma kuat khas gaharu. Gaharu super tidak menampakkan serat kayunya. Bentuknya seperti bongkahan yang di dalamnya tidak berlubang.
”Klasifikasi mutu gaharu ditetapkan ada enam, berturut-turut dari yang paling bagus, yaitu kelas super, tanggung, kacangan, teri, kemedangan, dan cincangan,” kata Sulistyo.
Kelas cincangan merupakan potongan kecil-kecil dari kayu yang terinfeksi menjadi gaharu. Meskipun tidak berwarna kehitaman atau tidak mengandung getah gaharu, kelas cincangan masih menunjukkan aroma khasnya. Biasanya, gaharu ini digunakan untuk pembuatan dupa atau hio.
Dalam proses produksi gaharu buatan, yang sangat penting dikuasai adalah proses pembenihan, persemaian, penanaman, dan pemeliharaan pohon-pohon berpotensi
Melihat adalah hutan- hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat, kebanyakan berada di atas tanah milik atau tanah adat meskipun ada pula yang berada di atas tanah Negara atau kawasan hutan negara.  Program Hutan Tanaman Rakyat juga menjawab adanya kesenjangan antara peningkatan kesejahteraan gaharu dan memperoleh keuntungan dari pohon yang menghasilkan produk bernilai tinggi.

Ada 3  prinsip penyelenggaraan Tanaman Gaharu, yaitu:
1.   Masyarakat mengorganisasikan dirinya berdasarkan kebutuhan, pembangunan tanaman gaharu  yang berkesinambungan. Pada lahan tersebut dengan memanfaatkan seoptimal mungkin  waktu yang ada dengan sistem  multiple cropping.
2.   Multiple cropping yaitu memanfaatkan lahan sewaktu tanaman utama (gaharu masih kecil) dengan ditanamai kedelai. Fungsi tanaman kedelai selain menghasilkan juga sebagai pengurangai biaya pengendalian gulma, juga menyuburkan tanah.
3.   setelah tahun ke 3, diantara tanaman gaharu dapat dibudidayakan tanaman yang tidak membutuhkan sinar matahari seperti rempah-rempah (jahe, kencur, temulawak, dll)
Sasaran program Tanaman Gaharu dengan Multicroping
Tanaman Gaharu merupakan tanaman elite artinya untuk menghasilkan produk yang diharapkan memerlukan biaya yang sangat mahal. Biaya mahal tersebut karena digunakan teknologi inokulasi yang sampai saat ini masih mahal. Rata-rata biaya per tanaman dapat mencapai antara Rp. 300.000,- sampai Rp 600.000,- per pohon.
Dengan tingginya biaya tersebut maka sasaran program tanaman gaharu adalah:
1.    Jumlah sedikit,  atau di bawah 100 pohon dapat menyatu dengan tanaman pekarangan. Maka sasaran budidaya dapat ke seluruh petani yang ada.
2.    Jika berbentuk kawasan, maka sasaran dapat berupa sekelompok petani. Sehingga biaya yang digunakan dapat ditanggung oleh  pemiliknya dengan demikian dapat membentuk kawasan cukup luas.
3.    Jika dilakukan secara perkebunan khusus, maka diperlukan pengusaha Kawasan hutan produksi yang tidak produktif, tidak dibebani hak/izin, letaknya diutamakan dekat dengan industri hasil hutan dan telah ditetapkan pencadangannnya sebagai lokasi Hutan Tanaman Rakyat atau hutan reboisasi.
4.    Kegiatan yang menjadi sasaran program adalah terwujudnya kawasan hutan Gaharu yang dapat dilakukan sebagai kawasan hutan produktif.
5.    Sebagai tempat atau kawasan percontohan untuk masayarakat sekitar program dalam budidaya tanaman hutan yang produktif.

B.   Model / Pola  Budidaya Tanaman Gaharu  system Rotasi dan Multiple cropping.
Pada kegiatan budidaya tanaman gaharu, dapat dilakukan pada lahan sedikit di pekarangan atau di lahan luas dalam bentuk perkebunan, misalnya: luas antara 8 sampai 15 hektar. Areal tersebut dikelola dengan menanam tanaman hutan yang diharapkan dapat dimanfaatkan untuk produksi yang menjanjikan
Namun selama menunggu waktu sampai produksi, masayrakat perku ada penyangga kebutuhan pangan dan menambah pendapatan selama pertumbuhan tanaman hutan maka diantara tanaman hutan dibudidayakan tanaman pangan yang berfungsi sebagai tanaman sela.
Model atau pola tanam yang direncanakan/ diharapkan adalah pola tanam yang berkesinambungan. Artinya  dalam luasan areal yang diberikan penanaman tanaman gaharu dilakukan secara periodik tertentu, dengan demikian panen tanaman gaharu dapat dilakukan secara periodik juga. Hal tersebut berkelanjutan dari tahun ke tahun sehingga penanaman dan panenan  terus berlangsung.
Model di atas hanya salah satu dari model yang digunakan untuk pengembangan yang berkelanjutan.  Penentuan Model/ Pola tanam budidaya rotary dan multiple cropping:
Beberapa hal yang mempengaruhi untuk budidaya gaharu dengan system rotasin dan multiple cropping ini adalah:
1.    Umur tanaman gaharu yang rencananya di panen
2.    Jarak tanam yang dilakukan  untuk tanaman gaharu.
3.    Luasan lahan yang di olah.

Contoh 1.
Usaha gaharu dalam luasan besar misalnya  120 ha, dengan menanam tanaman gaharu yang dapat dipanen dalam waktu 10 tahun. Dia berkeinginan  menanam setiap tahun maka luas lahan per tahun adalah 120/10 ha atau 12 ha. Model atau Pola tanam yang dibuat adalah
Tahun 1 = 12 ha; tahun 2 = 12 ha, tahun 3 = 12 ha..... tahun 8 = 12 ha. Untuk tahun ke 9 dilakukan panen 12 ha dan  untuk tahun ke 10 tanam 12 ha dan panen 12  ha, dst ...

Dapat digambarkan sebagai berikut:
Berdasarkan tabel di atas bahwa penanaman dilakukan setiap tahun sedangkan panen dilakukan setiap tahun mulai tahun ke 10 sampai seterusnya.


A.   Tanaman Sela Sebagai Pendukung Tanaman Hutan
Pada budidaya di tanaman Gaharu selain tanaman utama yaitu tanaman gaharu termasuk tanaman keras, dalam pelaksanaannya dilakukan dengan sistem tumpang sari.
Sebagai tanaman sela untuk tahun pertama, kedua dan ketiga adalah tanaman kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, kacang hijau). Tanaman sela dilakukan pada tanaman hutan semenjak pengolahan sampai pada tanaman hutan berumur 3 tahun setelah tanam. Untuk tanaman sela disarankan tanaman yang mempunyai beberapa kriteria diantaranya:  (a) Tanaman pangan atau hortikultura yang menghasilkan dan berharga. (b) Dapat berdampingan dengan tanaman hutan dalam hal ini sebagai tanaman utama,  Sedangkan pada tahun ke 4 sampaui pada tahun ke 9 dapat dilakukan dengan menanam tanaman rempah (jahe, kencur, temulawak, dll).
Tujuan dari pemberian tanaman sela tersebut adalah:
1.    Memberikan pendapatan bagi masyarakat yang mengelola tanaman tersebut untuk mendapatkan hasil dari tanaman sela selama menunggu hasil panen tanaman gaharu.

2.    Menjaga dan memelihara tanah dari kerusakan..
Dengan menanam di lahan antara tanaman hutan yang masih kecil maka tanah tertutup tanaman sela sehingga dari erosi, kerusakan dan lain-lain dapat ditanggulangi.
3.    Disamping itu, perawatan yang diberikan pada tanaman sela dapat sekaligus merawat tanaman hutan.

Sesuai dengan tujuan penggunaan tanaman sela  tersebut di atas maka tanaman sela dilakukan  minimal 1 kali dalam satu tahun. Dan akan lebih baik jika dilakukan 2 kali dalam satu tahun untuk mengurangi kerusakan lahan akibat tidak digunakan. Namun untuk daerah kering dimungkinkan hanya sekali dalam setahun.

B.   Budidaya Tumpangsari antara Tanaman Gaharu dan Tanaman Kedelai (kacang-kacangan).
1.    Penentuan Model/ pola tanam.
Bedasarkan luas lahan yang digarap dan jenis tanaman maka ditentukan  model / pola tanam yang akan digunakan ( lihat di atas), yang perlu diperhatikan dalam penentuan model / pola tanam adalah:
-       Penentuan komodite yang akan ditanam  (umur), nilai tanaman, tujuan kegunaan.
-       Pembagian luas lahan per tahun (lihat contoh ) untuk menghitung luas lahan).
2.    Persiapan lahan.
Lahan yang digunakan untuk hutan tanaman rakyat bermacam-macam. Ada lahan yang berasal dari semak belukar, tegalan, ladang, hutan skundair, tanah kritis, lahan tidur, dan lain sebagainya. Sebagian besar merupakan lahan yang kurang subur. Sebab pada umumnya lahan yang subur sudah digunakan sebagai lahan pertanian. Untuk mempersiapkan lahan tersebut dilakukan pembersihan (land clearing). Jenis lahan dengan kondisi yang berbeda maka land clearing pun berbeda-beda.
3.    Persiapan sarana dan prasarana Budidaya.
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk kegiatan Budidaya Hutan Tanaman Rakyat adalah:
Peralatan:
Peralatan pertanian  disesuaikan dengan obyek lahan yang digarap, baik untuk persiapan maupun peralatan selama perawatan tanaman gaharu dan tanaman pangan sebagai tanaman sela (kedelai)
Bahan:
a)    Bibit tanaman gaharu dan benih tanaman pangan.
Terdapat beberapa bibit yang dipersiapkan dalam budidaya tanaman rakyat yaitu:
-       Bibit tananam gaharu, dalam hal ini tergantung dari tanaman yang dipilih sesuai jenis tanaman. Pilihlah bibit yang sehat, dan mempunyai pertumbuhan lurus, tidak patah dan lain-lain.
-       Benih tanaman sela (kedelai dan rempah-rempah)

b)    Pupuk.
Pada umumnya lahan yang digunakan untuk Hutan Tanaman Rakyat bukan merupakan tanaman subur, namun berasal dari lahan tidur, lahan hutan sekunder, ladang, tegalan, pekarangan, dll.
Untuk itu, perlu adanya cara yang tepat pemberian bahan untuk pembenahan lahan yang dapat meningkatkan kesuburan di lahan.  Sesuai permasalahan tersebut maka penggunaan pupuk hayati Bio P 2000 Z merupakan pemecahan yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Pupuk lainnya seperti Urea, Phospat, KCl masih diperlukan sebagai bahan unsur hara yang mempunyai kandungan N, P dan K  tersedia cukup banyak.
Karena Hutan Tanaman Rakyat berbentuk budidaya tumpang sari antara tanaman hutan dan tanaman pangan sebagai tanaman sela maka jadwal dan dosisi pemupukan dilakukan pada tanaman sela.
c)    Pestisida
Penggunaan pestisida disesuaikan dengan serangan hama yang ada. Prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) harus diterapkan untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.

4.    Teknik Budidaya.
Teknik budidaya yang diuraikan di sini adalah teknik budidaya di  tanaman gaharu dengan sistem tumpang sari dengan tanaman pangan.  Pada tahun  pertama dilakukan penanaman hutan dan penanaman tanaman sela. Sesuai dengan kondisi cuaca di lokasi budidaya tanaman, jika dimungkinkan  sebaiknya tanaman pangan dilakukan 2 kali dalam satu tahun.
a.    Pembibitan Tanaman Gaharu.
Pembibitan tanaman hutan dilakukan oleh para penyedia bibit. Teknik pembibitan tanaman bermacam-macam, pembibitan dengan teknik sederhana sampai pada teknik kultur jaringan. Demikian pula masing-masing tanaman mempunyai teknik pembibitan yang berlainan.

b.    Penanaman Tanaman Gaharu.
Budidaya hutan tanaman rakyat menggunakan sistem tumpang sari. Agar penanaman dapat berhasil dengan baik antara tanaman hutan dan tanaman pangan membutuhkan tanaman pokok yang tertata rapi. Hal ini dapat dilakukan jika jarak tanam tanaman pokok dibuat sama. Untuk mendapatkan jarak tanam yang sama tersebut maka dibantu dengan sistem pengajiran sebelum dilakukan penggalian untuk tempat tanaman hutan ditanam.
Jarak tanam tergantung dari jenis tanaman akan ditanam.
Komodite tanaman hutan yang diusahakan tergantung dari tujuan dan waktu yang akan dipanen. Beberapa tanaman yang dapat dijadikan sebagai tanaman hutan adalah”

c.    Penamanan Tanaman Sela.
Penentuan tanaman sela dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan diantaranya: mempunyai pangsa pasar tinggi, sesuai dengan iklim dan ekologi lingkungan, mudah perawatan, dapat menunjang kebutuhan pangan pemiliknya.

d.    Perawatan.
Perawatan tanaman gaharu dalam budidaya pertumbuhan tidak terlalu sulit. Karena perawatan dilakukan seperti tanaman perkebunan lainnya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan gaharu yang paling penting adalah perlakukan untuk menginfeksi gaharu dengan inokulan dengan tujuan agar gaharu mengeluarkan getahnya.

            Teknik Inokulasi Gaharu:
Hal yang paling penting pada budidaya gaharu adalah dapat berproduksi  getah yang banyak dan berkualitas. Untuk memperoleh tersebut perlu dibantu dengan teknik inokulasi pada pohon gaharu tersebut.
            Cara atau teknik inokulasi gaharu adalah sebagai berikut:
a)    Pengadaan isolate: tugas para pemasok isolate.
b)    Produksi inokulan : tugas para pemasok inokulan
c)    Pengadaan alat dan perlengkapan berupa: genset, bor dan mata bor, pipa, air stiril, botol infuse).
d)    Teknik inokulasi: pilih pohon (diameter : 15 up) design lubang bor (spiral bor), tentukan jarak bor, mengebor batang dengan kedalaman 1/3 diameter, masukkan inokulan dan tutup dengan malam. Lakukan proses ini dengan cepat dan stiril.
e)    Observasi : setelah 1 – 2 bulan, amatilah laju infeksi penyakit dengan membuka kulit batang di sekitar lubang pengeboran.
Bila berubah warna dan ada tanda infeksi dan cek telah berbau gaharu maka dapat dinyatakan berhasil.
Sumber tulisan
Dr. Ir. Listyanto, MSc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentarnya Disini...................