Senin, 31 Desember 2012

ASPEK KEUANGAN BUDIDAYA BANDENG

ASPEK KEUANGAN BUDIDAYA BANDENG


PEMILIHAN POLA USAHA
Seperti dijelaskan pada bab IV bahwa budidaya bandeng terdiri dari 3 kegiatan yang dapat dilakukan secara terpisah atau bersamaan tergantung kepada kemampuan pengelolaan pengusaha. Dalam pola pembiayaan ini dipilih usaha gabungan dari dua kegiatan yakni, (a). pendederan dan (b). pembesaran dengan pola usaha monokultur. Tingkat teknologi yang digunakan adalah semi intensif dengan kriteria sebagai berikut, (a). spesifikasi tambak lebih sederhana dari pada tambak intensif penuh (b). pemberian pupuk sesuai standar tambak intensif (c). pemberian pakan adalah 60% dari pemberian pakan secara intensif.
Skala usaha dilihat dari tambak kotor adalah 20.000 m2, lahan tersebut 70% untuk tambak dan 30% sisanya untuk pematang dan peruntukan lainnya. Dari luas tambak bersih, 14.000 m2 dibagi menjadi 4 petak tambak masing-masing seluas 3.500 m2. Satu petak (3.500 m2) digunakan untuk pendederan dan 10.500 m2 untuk tambak pembesaran. Hasil panen pendederan yang berupa glondongan sebagian dijual dan sebagian lagi untuk dipelihara di tambak pembesaran. Hasil tambak pembesaran yang berupa bandeng konsumsi seluruhnya dijual.
Pemilihan tingkat teknologi dan luas tambak tersebut didasarkan pada kenyataan di Kabupaten Sidoarjo. Dalam skala yang bervariasi masyarakat petambak Sidoarjo sebagian besar menggunakan pola pemeliharaan dengan sistim semi intensif. Sementara luas tambak didasarkan pada rata-rata pemilikan tambak per rumah tangga.

ASUMSI DAN JADWAL KEGIATAN
Analisis keuangan suatu proyek mengharuskan ketepatan parameter yang digunakan, untuk itu diperlukan asumsi-asumsi yang sejauh mungkin didasarkan pada kenyataan di lapangan. Asumsi yang digunakan dalam analisis keuangan ini disajikan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1.
Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan
No
Asumsi
Satuan
Jumlah
Keterangan
1
Periode proyek
Semester
8
Persemester 6 bln
2
Pola dan Skala Usaha




a. Jenis usaha


Pendederan dan pembesaran

b. Teknologi


Semi intensif






c. Luas tanah
M2
20.000


d. Luas tambak total
M2
14.000


- Pendederan
M2
3.500


- Pembesaran
M2
10.500
Terdiri dari tiga petak
3
Siklus usaha




- Pendederan
Bulan
3
Tebar s/d panen

- Pembesaran
Bulan
4
Tebar s/d panen
4
Survival Rate




- Pendederan
%
70
Larva s/d Glondongan

- Pembesaran
%
80
Glondongan s/d bandeng konsumsi
5
Padat penebaran




- Pendederan
Ekor/M2
30


- Pembesaran
Ekor/M2
1

6
Harga bandeng




a. Nener
Rp/ekor
14
Di tingkat budidaya

b. Glondongan
Rp/ekor
200
Di tingkat budidaya

c. Bandeng konsumsi




- Ukuran
Jml/kg
3
Normal

- Harga
Rp/kg
6.000
Di tingkat pembudidaya
7
Pupuk




a. Penggunaan awal




- Kapur
Kg/M2
0,03


- Urea
Kg/M2
0,05


-TSP
Kg/M2
0,01



Kg/M2
0,03

 Sumber : Lampiran 1.
Periode proyek adalah 4 tahun, sesuai dengan lamanya waktu sewa tambak. Lama sewa tambak optimal 4 sampai 5 tahun, hal ini berkaitan dengan pengolahan tambak pada periode awal. Pengolahan tambak memerlukan biaya yang cukup besar, biaya pengolahan itu dianggap ekonomis jika tambak digunakan minimal selama 4 tahun.
Penebaran nener dan glondongan pada tiap petak tambak diatur sedemikian rupa agar supaya setiap bulan dapat diperoleh pendapatan. Pada awal periode penebaran pertama dilakukan bersamaan untuk kolam pendederan dan pembesaran petak pertama. Sekitar sebulan kemudian menebar pada petak ke dua tambak pembesaran. Bulan berikutnya berikutnya menebar pada kolam pembesaran petak ketiga dan panen dari petak pendederan. Bulan berikutnya menebar nener di petak pendederan dan panen dari petak pembesaran pertama. Mulai bulan ke lima, penebaran pada petak pembesaran dilakukan selang 13 hari untuk setiap petaknya (aspek teknis produksi dan jadwal tebar panen secara lengkap lihat Lampiran 2 dan Lampiran 3).
Survival Rate untuk pendederan adalah 70% relatif lebih rendah dibanding pembesaran yang mencapai 80%. Nener yang disebar pada tambak pendederan masih relatif lemah sehingga rentan terhadap gangguan. Sementara itu glondongan yang ditebar pada petak pembesaran telah cukup besar sehingga relatif lebih tahan terhadap lingkungan.
Kepadatan penebaran adalah 30.000 ekor per ha untuk pendederan dan 10.000 ekor per ha untuk pembesaran. Harga yang digunakan sebagai patokan adalah harga di tingkat pembudidaya, yakni Rp 6.000 per kg untuk bandeng konsumsi dan Rp 200 per ekor untuk glondongan sebab harga inilah yang dihadapi dan diterima oleh pembudidaya.
STRUKTUR BIAYA INVESTASI DAN BIAYA OPERASIONAL
1. Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya tetap yang harus dikeluarkan oleh petambak untuk memulai usahanya. Biaya investasi meliputi biaya perijinan, sewa tambak dan pengolahan tambak serta pembelian peralatan (Tabel 5.2). Biaya perijinan bernilai nol sebab biaya itu telah dibayar pemilik pada saat membuat tambak. Total biaya investasi yang diperlukan untuk tambak seluas 2 ha sekitar Rp 8 juta dengan biaya terbesar pelengkapan tambak. Biaya perlengkapan tambak adalah biaya untuk membeli pompa air dan membuat rumah pandega. Rumah pandega diperlukan sebab tambak berada di lokasi yang relatif jauh dari pemukiman sehingga diperlukan tempat untuk penunggu tambak. Tambak disewa selama 4 tahun, tetapi pembayaran sewa dilakukan setiap tahun. Sewa tambak saat penelitian adalah Rp 1.250.000 per ha per tahun. Pengolahan tambak memerlukan biaya yang besar terutama untuk biaya tenaga kerja. Peralatan antara lain adalah jaring, ember dan serok. Rincian biaya investasi dapat dilihat pada Lampiran 7.
Tabel 5.2.
Biaya Investasi Pendederan dan Pembesaran Bandeng
No
Jenis Biaya
Nilai (Rp)
Penyusutan (Rp)
1
Perijinan
0
0
2
Sewa tambak
2.500.000
2.500.000
3
Pembenahan tambak
2.135.000
427.000
4
Peralatan tambak
507.000
262.000
5
Perlengkapan tambak
3.180.000
1.288.250

Jumlah biaya investasi
8.322.000
4.477.250
Sumber : Lampiran 7
2. Biaya Operasional
Biaya operasional adalah biaya yang harus dikeluarkan ketika tambak dioperasikan untuk memelihara bandeng. Budidaya bandeng memerlukan bibit dan pakan. Untuk menambah sediaan makanan alami maka diperlukan pemupukan pada tambak. Untuk mengelola tambak diperlukan tenaga kerja (Tabel 5.3).
Biaya operasional terbesar (lebih dari 50%) adalah biaya pakan. Salah satu ciri penting pengelolaan tambak semi intensif adalah pemberian pakan. Biaya pakan menjadi cukup besar sebab pakan yang diberikan adalah pakan buatan pabrik yang saat ini harganya masih sangat tergantung pada harga bahan baku pakan yang sebagian besar masih didatangkan dari pasar luar negeri.
Biaya kedua terbesar (sekitar 10%) adalah biaya tenaga kerja. Tenaga yang diperlukan adalah 2 tenaga upahan tetap dan 1 tenaga pemilik, dengan upah sesuai jumlah produksi dan tenaga tidak tetap yang diperlukan saat panen. Upah semester 1 lebih tinggi dari pada semester 2 sebab pada semester ini rata-rata pendapatan dari tambak relatif lebih tinggi dibanding semester 2. Dua tenaga upahan bertugas untuk mengelola tambak sekaligus menjaga tambak selama 24 jam. Pemilik tambak diasumsikan menerima upah yang sama dengan pekerjanya. Informasi dari petambak menyatakan bahwa sebagai pemilik pekerjaan yang harus dilakukan hanyalah mengawasi pengelolaan tambak yang dilakukan oleh pekerjanya dan mengatur administrasi tambak yang tidak dilakukan secara formal (tidak ada pembukuan yang dilakukan). Dengan demikian upah itupun telah memadai bahkan upah ini sudah termasuk biaya untuk membayar listrik penerangan tambak dan biaya administrsi lain. Itulah sebabnya biaya administrasi tidak lagi diperhitungkan tersendiri.
Tabel 5.3.
Biaya Operasional Pendederan dan Pembesaran Bandeng
No
Jenis Biaya
Semester 1
Tahun 1
Semester 1
Tahun 2-4
Semester 2
Tahun 1-4
1
Benih
5.040.000
5.040.000
5.040.000
2
Pupuk
5.082.525
5.082.525
4.356.450
3
Pakan
21.325.000
22.335.005
23.324.088
4
Tenaga kerja
11.325.000
11.535.000
8.730.000
Jumlah
42.962.813
40.392.530
41.450.538
Sumber : Lampiran 8
KEBUTUHAN DANA UNTUK INVESTASI DAN MODAL KERJA
Modal yang diperlukan untuk mengoperasikan tambak seluas 2 ha adalah Rp 29.010.776 dengan porsi 28,68% biaya investasi dan 71,32% modal kerja. Modal kerja adalah modal yang diperlukan untuk mengoperasikan tambak pada periode awal. Dalam studi ini modal kerja meliputi biaya pembelian bibit, pakan, pemupukan dan tenaga kerja bulan pertama sampai bulan ke tiga.
Tabel 5.4.
Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja
No
Rincian Dana Proyek
Total Biaya (Rp)
1
Dana investasi yang bersumber dari


a. Kredit
5.825.400

b. Modal sendiri
2.496.600

Jumlah dana investasi
8.322.000
2
Dana Modal Kerja yang bersumber dari


a. Kredit
10.344.388

b. Modal sendiri
10.344.388

Jumlah Dana Modal Kerja
20.688.776
3
Total Dana Proyek yang bersumber dari


a. Kredit
16.169.788

b. Modal Kerja
12.840.988

Jumlah Dana Proyek
29.010.776
Sumber : Lampiran 09
Untuk memenuhi kebutuhan dana investasi dan modal kerja sebagian dana diperoleh dari pinjaman (kredit). Dalam studi ini 70% biaya investasi berupa dana kredit dan sisanya modal sendiri, sementara untuk modal kerja 50% pinjaman dan 50% dana sendiri (Tabel 5.4).
Merujuk pada temuan lapangan dana dari bank umumnya dilunasi dalam jangka pendek, oleh karena itu dalam analisis keuangan ini dana dari bank diangsur dalam jangka 2 tahun dengan bunga menurun. Bunga yang harus dibayar adalah 20% per tahun, bunga yang relatif tinggi ini terkait dengan resiko yang tinggi pada usaha tambak bandeng. Pada semester awal total angsuran yang harus dibayar adalah Rp 6 juta dan menurun pada semester-semester berikutnya. Nilai angsuran ini jauh lebih kecil dari nilai pendapatan kotor yang setiap semesternya berkisar pada angka Rp 50 juta (Tabel 5.5).
Tabel 5.5.
Angsuran Pokok dan Bunga Kredit
Tahun
Periode
Angsuran Pokok
Angsuran Bunga
Total Angsuran
Saldo Akhir
1. Kredit Investasi Rp
Tahun 1
Semester 1
1.456.350
546.131
2.002.481
4.369.050

Semester 2
1.456.350
400.496
1.856.846
2.912.700
Tahun 2
Semester 1
1.456.350
254.861
1.711.211
1.456.350

Semester 2
1.456.350
109.226
1.565.576
0
2. Kredit modal Kerja Rp
Tahun 1
Semester 1
2.586.097
969.786
3.555.883
7.758.291

Semester 2
2.586.097
711.177
3.297.274
5.172.194
Tahun 2
Semester 1
2.586.097
452.567
3.038.664
2.586.097

Semester 2
2.586.097
193.957
2.780.054
0
Sumber : Lampiran 10.
PRODUKSI DAN PENDAPATAN
Hasil produksi usaha ini adalah bandeng bibit (glondongan) dan bandeng konsumsi. Untuk glondongan setiap semester dihasilkan 147.000 ekor bandeng. Sementara produksi bandeng konsumsi mencapai 8.400 ekor pada semester pertama tahun pertama kemudian meningkat menjadi 11.200 ekor pada semester ke dua. Dengan tingkat produksi itu usaha tambak badeng semi intensif ini menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp 44 juta pada tahun ke 1 semester1 dan lebih dari Rp 50 juta pada periode berikutnya (Tabel 5.6).
Tabel 5.6.
Produksi dan Pendapatan Kotor Per Semester
Tahun
Uraian
Satuan
Semester 1
Semester 2
1. Bandeng glondongan
1-4
a. Luas tambak per panen
M2
3.500
3.500

b. Frekuensi panen
Kali
2
2

c. Produksi per panen
Ekor
73.500
73.500

d. Total produksi
Ekor
147.000
147.000

- Dibesarkan sendiri
Ekor
7.000
3.500

- Dijual
Ekor
140.000
143.500

e. Pendapatan kotor
Rp
28.000.000
28.700.000
2. Bandeng konsumsi
1
a. Luas tambak per panen
M2
3.500
3.500

b. Frekuensi panen
Kali
3
4

c. Produksi per panen
Ekor
2.800
2.800

d. Total produksi
Ekor
8.400
11.200


Kg
2.800
3.733

e. Pendapatan kotor
Rp
16.800.000
22.400.000
2-4
a. Frekuensi panen
Kali
5
4

b. Total produksi
Ekor
14.000
11.200


Kg
4.667
3.733

c. Pendapatan kotor
Rp
28.000.000
22.400.000
Sumber : Lampiran 11
PROYEKSI LABA RUGI DAN BEP
Studi ini menunjukkan bahwa usaha tambak bandeng semi intensif mampu menghasilkan keuntungan. Pada semester pertama mengalami kerugian sebesar Rp 8.198.427, tetapi semester berikutnya tambak telah menghasilkan keuntungan, dimulai dengan keuntungan puluhan ribu rupiah menjadi jutaan rupiah pada periode-periode berikutnya. Pada akhir periode proyek keuntungan yang diperoleh adalah Rp 17.706.739 (Lihat Lampiran 13).
Secara rata-rata margin yang dapat diperoleh usaha tambak bandeng adalah 4,24% per semester. Rata-rata margin yang rendah disebabkan karena margin pada semester pertama tahun pertama adalah nol dan semester 2 tahun pertama adalah Rp 15.379. Margin yang rendah pada periode awal (semester 1 sampai semester 4) terkait dengan pembayaran angsuran kredit yang harus dilakukan. Semester 5 dan seterusnya menunjukkan bahwa margin yang diperoleh cukup tinggi sebab pada periode ini petambak tidak lagi harus membayar angsuran. Dengan memperhitungkan biaya tetap dan biaya variabel serta hasil penjualan maka didapat nilai rata-rata BEP penjualan usaha ini adalah adalah Rp 37.941.305 per semester, jauh lebih rendah dari nilai penjualan per semester. Perhitungan BEP hanya meliputi BEP nilai penjualan sebab produk yang dihasilkan adalah glondongan dan bandeng konsumsi yang harga dan ukuran produknya bervariasi cukup tinggi, yakni Rp 200 per ekor untuk glondongan dan Rp 6.000 per kg untuk bandeng konsumsi. Dengan demikian perhitungan dalam bentuk rata-rata jumlah produksi dan harga per kg menjadi tidak tepat.
PROYEKSI ARUS KAS DAN KELAYAKAN PROYEK
Menurut kriteria kelayakan proyek, usaha tambak bandeng layak untuk dilaksanakan. Dengan suku bunga 20% dan masa proyek 4 tahun, usaha pendederan dan pembesaran bandeng semi intensif menghasilkan NPV sebesar Rp 17.661.201 dan Net B/C Ratio 1,68, IRR 53,02% serta PBP 5 bulan (tabel 5.7).
NPV yang positif menyatakan bahwa aliran kas usaha bandeng ini adalah positif dari waktu ke waktu. Angka ini juga menyatakan bahwa manfaat dari usaha bandeng lebih besar dari biaya yang ditanggung. Hal ini diperkuat dengan nilai Net Benefit Cost Rasio yang mencapai angka 1,68. Bunga kredit usaha bandeng adalah 20%, sementara IRR yang diperoleh adalah 53,02%, artinya proyek ini menguntungkan. Masa pengembalian investasi adalah 5 bulan, jauh lebih rendah dari jangka waktu proyek yang 4 tahun dengan demikian proyek ini layak untuk dilaksanakan.
Tabel 5.7.
Kelayakan Budidaya Pendederan dan Pembesaran Bandeng
No
Kriteria Kelayakan
Nilai
1
NPV pada DF 20% (Rp)
17.661.201
2
Net B/C Ratio  20%
1.68
3
IRR (%)
53.02
4
PBP (tahun / bulan)
0/5
Sumber : Lampiran 14
ANALISIS SENSITIVITAS
Analisis sensitivitas digunakan untuk menguji sensitivitas usaha bandeng terhadap perubahan lingkungan yang berdampak pada penurunan pendapatan dan kenaikan biaya operasional. Simulasi dilakukan untuk melihat dampak penurunan pendapatan, peningkatan biaya operasional serta penurunan pendapatan sekaligus peningkatan biaya terhadap indikator penilaian investasi. Hasil simulasi terhadap masing-masing variabel disajikan pada Tabel 5.8, 5.9, dan 5.10.
Penurunan pendapatan sebesar 5% tidak membuat budidaya bandeng kehilangan kelayakannya. Tetapi jika penurunan pendapatan mencapai 7% budidaya bandeng tidak layak lagi untuk dilaksanakan. Berdasar informasi dari petambak harga bandeng relatif stabil dari periode ke periode. Selama satu tahun terakhir harga bandeng konsumsi di tingkat petambak berkisar pada angka Rp 6.000 sampai Rp 8.000. Per kg. Studi ini menggunakan harga bandeng konsumsi sebesar Rp 6.000, sehingga analisis ini adalah kondisi paling buruk yakni harga bandeng konsumsi turun lebih rendah dari Rp. 6000.
Tabel 5.8.
Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario 1
No
Kriteria Kelayakan
Penerimaan Turun
5%
7%
1
NPV pada DF 20% (Rp)
3.617.906
(1.999.413)
2
Net B/C Ratio  20%
1,14
0,93
3
IRR (%)
26,86
16,17
4
PBP (tahun / bulan)
1 / 9
2 / 1
Sumber : Lampiran 15 dan Lampiran 16
Budidaya bandeng lebih tahan terhadap kenaikan harga input dibandingkan penurunan pendapatan. Pada kenaikan biaya operasional sebesar 8% budidaya bandeng baru tidak layak untuk dilaksanakan. Biaya operasional terbesar adalah biaya untuk pakan. Dari lapangan diperoleh informasi bahwa harga pakan berfluktuasi mengikuti nilai tukar rupiah terhadap nilai dolar. Selama satu tahun terakhir harga pakan bandeng pembesaran umur 3 bulan (menjelang panen) berfluktuasi disekitar harga Rp 2.400 sampai Rp 2.700. Tetapi harga lebih sering berada pada angka Rp 2.500, dengan demikian fluktuasi harga pakan adalah sekitar 4% sampai 8%.
Tabel 5.9.
Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario II
No
Kriteria Kelayakan
Biaya Operasional Naik
5%
8%
1
NPV pada DF 20% (Rp)
6.105.242
(828.334)
2
Net B/C Ratio  20%
1,23
0,97
3
IRR (%)
31,44
18,44
4
PBP (tahun / bulan)
1 / 8
2/1
Sumber : Lampiran 17 dan Lampiran18
Simulasi ketiga adalah simulasi untuk keadaan pandapatan turun sekaligus biaya operasional naik. Dalam kondisi demikian maka budidaya bandeng sudah tidak layak lagi untuk dilaksanakan ketika keduanya berubah sebesar 4%. Berdasar informasi dari petambak kondisi ini tidak sering terjadi, walaupun dalam bilangan waktu yang pendek kadang terjadi penurunan harga bandeng konsumsi bersamaan dengan naiknya harga pakan.
Tabel 5.10.
Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario III
No
Kriteria Kelayakan
Pendapatan Turun dan Biaya Operasional Naik
3%
4%
1
NPV pada DF 20 %
2.301.648
(2.818.205)
2
Net B/C Ratio
1,09
0,90
3
IRR (%)
24,35
14,63
4
PBP (tahun/bulan)
1 / 10
2 / 4
Sumber : Lampiran 19 dan Lampiran 20

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentarnya Disini...................