Kamis, 17 Mei 2012

PUPUK LIMBAH KAKAO RAMAH LINGKUNGAN

Pupuk Limbah Kakao Ramah Lingkungan


Petani Binaan Amarta dan Wahana Sukses pertanian terpandang (WASIAT) di sejumlah desa di Kabupaten Polewali Mandar memanfaatkan sisa kulit kakao sebagai bahan dasar pembuatan pupuk, karena selain menghemat biaya, bahan pupuk dari limbah kakao tersebut juga tidak berbahaya bagi lingkungan.
Pemanfaatan kulit kakao, sudah dilakukan warga lebih dari setahun, sehingga kini warga di Kecamatan Anreapi Desa Duampanua sudah banyak yang memanfaatkan kulit kakao tersebut. “Daripada dibuang, kami manfaatkan saja kulit kakao untuk memupuk tanaman kembali,” kata salah satu warga, Jamal  (33), di Desa Duampanua, Kecamatan Anreapi,Kab.Polewali Mandar, Senin..
Salah seorang pekebun kakao, Modeng (53), di Kecamatan Anreapi, Tibakan mengatakan, awalnya warga tidak terlalu mempedulikan limbah sisa berupa kulit kakao tersebut, karena jumlah kulit kakao di pekarangan sangat melimpah, namun setelah ada warga yang menggunakan kulit kakao yang dicampur dengan Limbah Jerami untuk memupuk kembali pohon kakao dan hasilnya memuaskan, lalu banyak warga yang mengikuti.
Pembuatan pupuk dari kulit kakao yang dilakukan langsung Oleh Kelompok Tani Terus Hidup yang hingga Saat ini memberikan pendampingan secara terus menerus kepada Anggotanya, menurutnya, tidak jauh berbeda dengan membuat pupuk kompos lain. Kulit kakao yang ada, dikumpulkan dalam satu lubang tanah, lalu dicampur dedaunan, batang pisang dan jerami yang kemudian ditimbun selama kurang lebih 60 hari.
Agar hasilnya maksimal, timbunan tersebut tidak boleh dibuka selama proses berlangsung, selain itu bisa ditambahkan mikro organisme pengurai atau cacing tanah agar bisa mempercepat penggemburan.
Setelah itu, lubang bisa digali dan kulit kakao akan berubah menjadi gembur. Lalu, pupuk kompos yang sudah jadi, diangkat dari lubang. Selanjutnya pupuk kompos yang kasar disaring supaya menghasilkan pupuk kompos yang halus, maka pupuk siap digunakan.
Pupuk dari bahan dasar kulit kakao bisa menghemat biaya hingga 50 persen, karena unsur hara yang ada hampir mencukupi. Agar unsur hara pupuk kompos dari kulit kakao mencukupi bisa ditambahkan dengan pupuk ZA dan NSP.
Selain menghemat biaya, pupuk dari kulit kakao tersebut sangat ramah lingkungan karena tidak mengandung zat asam berlebih, sehingga tidak membuat struktur tanah menjadi keras..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentarnya Disini...................