Minggu, 22 Juli 2012

BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN KELAPA DALAM

BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN KELAPA DALAM



I. PENDAHULUAN


            Daerah Sulawesi Utara sebagai daerah Nyiur Melambai, dengan sumber pendapatan utama masyarakat pedesaan berasal dari tanaman kelapa.  Namun pengusahaan kelapa, terutama budidayanya kurang mendapat perhatian yang serius dari masyarakat perkelapaan.  Hal ini, menyebabkan rendahnya produktivitas kelapa dan kurang berkembang usaha disertivikasi produk.  Keadaan demikian berdampak terhadap rendahnya pendapatan petani kelapa di Sulawesi Utara.
            Peran BRI Sulawesi Utara untuk mensosialisasikan teknis budidaya kelapa dalam kepada Kepala Unit dan Mantri  di Lingkungan BRI Sulawesi Utara sesuai fungsi dan peran BRI kepada petani kelapa, akan sangat membantu masyarakat perkelapaan dalam perbaikan usaha budidaya kelapa.  Aplikasi teknik budidaya oleh petani akan menunjang peningkatan produksi dan pengembangan aneka produk kelapa yang secara langsung akan menopang peningkatan pendapatan petani dan masyarakat perkelapaan.
            Makalah ini, merupakan hasil-hasil penelitian dari Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, ditambah berbagai informasi dan literatur yang relevan.Makalah ini merupakant informasi praktis budidaya kelapa yang meliputi penentuan lokasi penanaman, penanganan tanaman dari benih sampai tanaman dewasa, hama dan penyakit, pengolahan produk, tanaman sela dan peremajaan kelapa.
            Diharapkan materi ini, sebagai langkah awal dan sumbangan positif dalam menunjang pengembangan kelapa rakyat yang lebih produktif,  bagi daerah Sulawesi Utara, dan  daerah lain yang mempunyai potensi kelapa.


II. PENENTUAN LOKASI

2.1.  Iklim

            Iklim merupakan faktor penting dan harus dipertimbangkan  pada penyusunan rencana perluasan areal atau pengembangan tanaman kelapa, karena tanaman kelapa akan berproduksi optimal apabila dipenuhi persyaratan optimal iklimnya, persyaratan iklim pertanaman kelapa sebagai berikut: Curah hujan tidak lebih dari 2500 mm/tahun, suhu udara optimum        25-320 C, kelembaban udara 80 - 90 %, lama penyinaran 1800 - 200 jam/tahun dan tinggi tempat  500 m dpl

2.2. Keadaan Lahan dan Tanah

            Evaluasi lahan dan tanah diperlukan sebagai informasi awal yang sangat menentukan penyusunan rencana penentuan lokasi dan jenis kegiatan yang harus dilaksanakan.  Evaluasi lahan dan tanah yang dilakukan, meliputi peninjauan terhadap vegetasi, kondisi topografi dan keadaan tanah.  Calon lokasi penanaman harus diketahui dengan jelas kondisinya yang meliputi : (a). Keadaan vegetasi : hal ini penting untuk mempersiapkan cara pembukaan lahan/ penyiapan lokasi dan rencana biaya yang diperlukan, (b). keadaan topografi : hal ini penting untuk menentukan teknik bercocok tanam, pengaturan drainase, dan pencegahan erosi.  Keadaan topografi juga menentukan jenis tanaman sela atau bentuk pola tanah yang akan diterapkan. dan (c).  sifat dan ciri tanah, diperlukan untuk mengetahui tingkat kesuburan baik fisik maupun kimiawi.


2.3. Penyiapan Lahan

1. Pembukaan Hutan Sekunder
  • Babat semak serendah mungkin.
  • Penebangan pohon-pohon yang berdiameter hingga 15 cm.  Alat yang digunakan sebaiknya parang besar atau kapak (tebang pohon tahap I).
  • Penebangan pohon sisa yang  ukurannya lebih besar.  Alat yang cocok pada kegiatan ini adalah kapak atau chainsaw (tebang pohon tahap II).
  • Kayu-kayu besar dapat dimanfaatkan untuk bangunan rumah atau pondok dan lain-lain.
  • Kayu kecil-kecil atau cabang dapat digunakan untuk pagar, dan kayu bakar.
  • Sisa-sisa daun dan ranting sebaiknya dibiarkan melapuk.
  • Kayu-kayu yang tidak digunakan dapat dikumpul pada tunggul-tunggul kayu besar lalu dilakukan pembakaran secara bertahap atau terkendali.  Usahakan sesedikit mungkin membakar untuk mencegah kemerosotan lahan atau kalau memungkinkan hal itu sebaiknya tidak dilakukan.

2.  Pembukaan Lahan Bersemak.
  • Semak atau belukar dapat langsung dibabat serendah mungkin atau hingga permukaan tanah.
  • Hasil pembabatan, dikumpul dan dibiarkan melapuk.
  • Kayu-kayu yang agak besar dapat dimanfaatkan untuk pagar kebun atau pagar individual tanaman.

3.  Pembukaan Lahan Alang-Alang.
  • Pemberantasan alang-alang, yaitu membabat hingga permukaan tanah lalu biarkan menjadi kering kemudian dibakar.  Untuk mencegah api menyebar ke lahan yang lain, buatlah jalur yang bebas dari alang-alang mengelilingi areal selebar 3-5 m.
  • Pemberantasan alang-alang dengan cara kimiawi menggunakan herbisida.  Penggunaan bahan kimia ini dapat dilakukan langsung (sekitar 5 liter/ha) atau setelah pembakaran alang-alang (45 hari kemudian).

2.4. Pengajiran
·   Jarak dan sistem tanam 9 m x 9 m sistem segitiga.  Pada umur tertentu, jenis tanaman sela yang dapat diusahakan di antara kelapa pada sistem ini lebih terbatas.
·   Jarak dan sistem tanam 16 m x 16 m sistem pagar.  Pada jarak dan sistem tanam ini, peluang penanaman tanaman sela sangat besar, dan memungkinkan kegiatan tersebut dilakukan setiap waktu.  Jarak dan sistem tanam (5 m x 3 m) 16 m atau (6 m x 3 m) 16 m sistem gergaji.  Pada jarak dan sistem tanam ini, peluang pemanfaatan lahan di antara barisan tanaman sama dengan sistem pagar, tetapi populasi kelapa lebih tinggi.
·   Jarak dan sistem tanam 8.5 m x 8.5 m atau 9 m x 9 m sistem segiempat.  Kendala pemanfaatan dengan sistem ini sama dengan pola segitiga.

Tabel 1. Jarak dan sistem tanam kelapa.

Sistem tanam
Jarak tanam (m)
Populasi
Tanaman/ha
Jumlah lorong
(per ha)
Luas lorong
(m)
Segi empat
9 x 9
123
9
4.500
Segi tiga
9 x 9
143
10
3.800
Pagar
6 x 16
106
6
7.200
Gergaji
(5 x 3) x 16
175
5
6.000
(6 x 3) x 16
155
5
6.000

Keterangan : Luar lorong dihitung berdasarkan luas lahan efektif yang tersedia antar baris (2 m dari pohon kelapa) per ha.
2.5. Pembuatan Lobang Tanam

Tahap pembuatan lobang
  • Buat rangka/bingkai dengan ukuran 60 cm x 60 cm dan tempatkan pada titik ajir untuk penanaman kelapa.  Tiang/titik ajir harus ditengah rangka/ bingkai (kotak dari bambu).
  • Lakukan penggalian, tanah bagian atas atau top soil ditempatkan di sebelah kiri/kanan, dan lapisan tanah dibawahnya disisi yang berlawanan.
  • Galilah lobang sesuai ukuran yang telah ditentukan.
  • Khusus untuk tanah dengan tekstur berat, seperti dominan liat atau bercadas atau berbatu, sebaiknya ukuran lobang diperbesar hingga 80 cm x 80 cm atau lebih.

Pembuatan teras individu dan lobang tanam
  • Ukuran teras individu bisa berdiameter 2 m atau lebih.  Pusat teras adalah tiang ajir yang telah ditentukan sebelumnya.  Sebaiknya permukaan teras miring ke arah dinding teras (ke arah bagian belakang),  untuk memperkecil aliran air hujan.  Hal ini  juga dapat berfungsi untuk konservasi air.
  • Selanjutnya buatlah lobang sebagaimana pembuatan lobang di lahan datar.


III. BAHAN TANAMAN


3.1. Jenis-jenis Kelapa Dalam

1.  Kelapa Dalam Mapanget (DMT); Asal Sulawesi Utara mulai berbuah umur 5 tahun, bentuk buah bulat, ukuran buah sedang, warna kulit buah umumnya merah kecoklatan, produksi kopra optimal 3.5 ton/ha/tahun, kadar minyak 62.95%.  Agak toleran terhadap kemarau panjang.  Daerah pengembangan lahan kering iklim basah (curah hujan > 2.500-3.500 mm/tahun).

2.  Kelapa Dalam Tenga (DTA); Asal Sulawesi Utara  mulai berbuah umur 5 tahun, bentuk buah bulat, ukuran buah sedang, warna kulit buah umumnya hijau, produksi kopra optimal 3 ton/ha/ tahun.  Kadar minyak 69.31%.  Tahan terhadap kekeringan sampai dengan 3 bulan.  Daerah pengembangan lahan kering iklim basah (curah hujan < 2.500 mm/tahun).

3.  Kelapa Dalam Bali (DBI); Asal Bali mulai berbuah umur 5 tahun, bentuk buah bulat, ukuran buah besar, warna kulit buah hijau kekuningan, produksi kopra optimal 3 ton/hektar/tahun.  Kadar minyak 65.52%.  Tahan terhadap kekeringan sampai dengan 3 bulan.  Daerah pengembangan lahan kering iklim basah (curah hujan < 2.5000 mm/t ahun).

4.  Kelapa Dalam Palu (DPU); Asal Sulawesi Tengah mulai berbuah umur 5 tahun, bentuk buah bulat, ukuran buah besar, warna kulit buah umumnya hijau, produksi kopra optimal 2.8 ton/ hektar/tahun.  Kadar minyak 69.28%, agak toleran terhadap kemarau panjang.  Daerah pengembangan lahan kering iklim basah (curah hujan <2.500 mm/tahun)

5.  Kelapa Dalam Sawarna (DSA); Asal Jawa Barat mulai berbuah 4 tahun, bentuk buah bulat, ukuran buah sedang, warna kulit buah hijau kekuningan, produksi kopra optimal 3.5 ton/hektar/tahun.  Kadar minyak 66.26%. Tidak toleran  terhadap kekeringan.  Dearah pengembangan lahan kering iklim basah dengan curah hujan sedang sampai tinggi (> 2.500 mm/tahun).

6.  Kelapa Dalam Takome (DTE); Asal Maluku Utara mulai berbuah umur       5 tahun, bentu buah bulat, ukuran buah kecil, jumlah buah per tandan banyak (75-100 butir),  produksi kopra optimal 2.14 ton/hektar/tahun.  Kadar minyak 50.59%.  Toleran terhadap kemarau panjang.  Daerah pengembangan lahan kering iklim basah dengan curah hujan rendah sampai tinggi (> 1.200 mm/tahun).

7.  Kelapa Dalam Lokal; Jika sulit mendapatkan kelapa yang telah dilepas sebagai varietas kelapa Dalam unggul yang telah direkomendasikan oleh BALITKA, terutama karena lokasi pengembangan jauh, maka benih yang dibutuhkan dapat diseleksi dari populasi kelapa Dalam unggul lokal atau Blok Penghasil Tinggi (BPT) yang telah ditetapkan oleh Dinas Perkebunan/instansi terkait dan disetujui oleh BALITKA berdasarkan evaluasi yang dilakukan peneliti dan petugas lapang.

3.2.. Persyaratan Bahan Tanaman

Bahan tanaman dalam hal ini benih kelapa Dalam harus berasal dari kebun benih atau Blok Penghasil Tinggi (BPT) serta mutu benih yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Tabel 2. Persyaratan Sumber Benih dari Kebun Kelapa Blok Penghasil Tinggi
No.
Jenis Pemeriksaan
Persyaratan
1.
Bentuk mahkota daun
Bulat atau setengah bulat
2.
Tingkat keseragaman warna buah dan bentuk buah
Minimum 80.0%
3.
Jumlah tandan
> 12 tandan/pohon/tahun
4.
Tingkat produktivitas
> 70 butir/pohon/tahun atau 18 kg kopra/pohon/tahun.
5.
Serangan hama dan penyakit berbahaya
Tidak ada
6.
Tanaman penyangga
Minimum 4 baris
7.
Populasi tanaman
Minimum 500 pohon
8.
Altitude (ketinggian tempat dari permukaan laut)
< 400 m
IV. PESEMAIAN

4.1. Pemilihan lokasi

Lokasi pesemaian harus memenuhi persyaratan, antara lain;
1.     Tanah datar, dengan struktur remah dan subur sehingga mudah dilakukan pemindahan benih yang telah berkecambah.
2.     Dekat sumber air sehingga mudah dilakukan penyiraman benih yang telah dideder pada bedeng pesemaian.
3.     Tidak mudah terenang air pada waktu musim hujan.
4.     Diusahakan dekat jalan untuk mempermudah transportasi dan pengawasan.

Persiapan lokasi pesemaian

Lokasi pesemaian dibersihkan dari rumput, sisa akar dan lain-lain.  Tanah diolah dengan kedalaman 30 cm-40 cm.  Pengolahan tanah dapat dilakukan secara manual dengan cangkul, bajak ditarik ternak (sapi atau kerbau), atau bajak yang diatrik traktor.  Langkah-langkah selanjutnya adalah :
·         Tanah dicangkul/dibajak, disisir.
·         Buat bedengan dengan ukuran lebar 1.5-2.0 m, panjang disesuaikan dengan keadaan setempat dan tinggi 25 cm.  Jarak antar bedengan 30-40 cm yang berfungsi sebagai parit pembuangan air.  Untuk tanah-tanah berat, yaitu pada tanah yang mengandung kadar liat yang tinggi dianjurkan penambahan pasir pada bedengan.
·         Pada bedengan dibuat penyanggah dari bambau yang dibelah, untuk mencegah erosi.
·         Pesemaian diberi pagar untuk menghindari kerusakan akibat gangguan hewan.

4.2.  Penyiapan benih
1.   Benih dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan pada tempat yang ternaungi.  Karung diletakkan menumpuk satu sama lain.  Benih disiram tiga kali sehari sebelum dideder.
2.   Benih dipisah dan dihitung berdasarkan kriteria :
a.    Benih normal, yaitu apabila buahnya digoyang terdengan bunyi air.
b.    Benih abnormal, yaitu benih dengan ukuran yang sangat menyimpang atau apabila digoyang tidak terdengar bunyi air.
c.    Benih telah berkecambah normal dan sehat.
d.    Benih telah berkecambah tetapi abnormal, kerdil dan mati.







Kebutuhan benih tergantung pada luas lahan yang akan ditanam serta sistem dan jarak tanam yang akan digunakan.

Tabel 3. Kebutuhan benih kelapa berdasarkan jarak dan sistem tanam.

Jarak dan sistem tanam
Kebutuhan bibit
Kebutuhan benih
Siap salur
9 m x 9 m Segitiga (143/ha)
143
220
160 (143 + 17 sulaman)
6 m x 15 m Sistem pagar
140
220
157 (17 sulaman)
6 m x 16 m Sistem pagar
119
185
134 (15 sulaman)
(5mx 3 m)x16 Sistem gergaji
175
275
217 (23 sulaman)
(6 m x3m)x16Sistem gergaji
155
240
180 (20 sulaman)

Penyayatan

Sebelum dideder pada bedeng pesemaian, dilakukan penyayatan benih dengan cara :
1.  Dipilih sisi buah kelapa yang terlebar, kemudian penyayatan dilakukan pada bagian yang berlawanan arah dengan bagian tersebut dengan panjang sayatan 10 cm, lebar sayatan 7 cm dan tebal sayatan 1 cm.  Bagian yang disayat ini adalah tempat keluarnya kecambah.  Tujuan penyayatan adalah untuk mempermudah penyerapan air ke dalam sabut sehingga lingkungan sekitar tempat keluarnya kecambah selalu dalam keadaan basah atau lembab.  Dengan demikian, kecambah lebih mudah keluar dan pertumbuhan bibit normal.
2.  Untuk benih yang agak lama dalam perjalanan (dua bulan setelah panen), penyayatan dilakukan secara hati-hati karena pada saat itu benih telah berkecambah.  Teknik penyayatan dapat dilakukan dengan cara menarik ke atas sabut yang disayat.
3.  Kapasitas penyayatan benih kelapa per satu orang tenaga kerja adalah 3.500-4.500 benih per hari.

Pendederan Benih
1.    Benih kelapa yang telah disayat diletakkan (dideder) pada bedeng pesemaian dengan cara berderet, hingga 2/3 bagian benih terbenam dalam tanah setelah sebagian tanah bedengan dikeluarkan.  Posisi benih agak miring dengan bagian yang disayat dibagian atas.
2.    Barisan benih disusun secara zig zag, bagian yang disayat pada posisi satu arah.  Bagian yang disayat diarahkan ke sebelah Timur.
3.    Untuk mendapatkan posisi bagian yang disayat sejajar dengan permukaan tanah (horizontal), maka pengaturan benih pada bedengan menyudut kurang lebih 45o.
4.    Satu orang tenaga kerja dapat melakukan pendederan sebanyak 2.500-3.000 butir/hari.
4.3. Pemeliharaan Pesemaian

Pemeliharaan pesemaian ditujukan untuk menciptakan kondisi optimal agar benih cepat berkecambah dalam jumlah banyak.  Langkah-langkah pemeliharaan terdiri atas :
1.   Penyiraman ;      Penyiraman terutama dilakukan pada musim kemarau atau apabila hujan tidak turun.  Untuk mengetahui cukupnya penyiraman, maka setelah 2 jam penyiraman, pada bagian sayatan ditekan dengan ibu jari.  Apabila keluar air berarti penyiraman sudah cukup, tetapi apabila pada bagian sayatan tidak keluar air, penyiraman perlu dilakukan lagi.  Frekuensi penyiraman tergantung pada tekstur tanah dan distribusi hujan.  Pada tanah berpasir, penyiraman harus dilakukan setiap hari, sedangkan pada tanah yang mempunyai daya menahan air yang kuat, penyiraman dilakukan sekali dalam 2-3 hari.  Kebutuhan air untuk penyiraman pesemaian sebanyak 3-6 ltr/m2/hari.
2.   Penyiangan ; Pesemaian harus selalu bersih dari rumput/gulma untuk mencegah adanya inang hama dan penyakit.  Penyiangan dilakukan setiap bulan.
3.  Pencegahan hama dan penyakit. : Pencegahan hama dan penyakit di pesemaian mutlak dilakukan setiap bulan dengan insektisida dan fungisida.  Penggunaan insektisida dan fungisida dengan takaran yang dianjurkan.  Penyemprotan dilakukan secara merata pada seluruh benih/kecambah.  Penyemprotan insektisida dan fungisida dilakukan secara terpisah.  Untuk insektisida dapat digunakan Matador 2 cc/l dan untuk fungsida digunakan Dithane 1-2 g/l.
4.   Pemagaran : Pesemaian sebaiknya diberi pagar untuk menghindari gangguan dari luar.  Pagar yang digunakan adalah pagar bambu atau pagar hidup.


Seleksi Kecambah
1.    Sebelum dipindah ke polibag atau bedeng pembibitan, dilakukan seleksi kecambah.  Seleksi kecambah berdasarkan kriteria panjang tunas, yaitu sekitar 3-5 cm dan kecambah yang terseleksi diberi tanda dengan cat.  Seleksi dilakukan setiap minggu hingga 3-4 bulan benih disemai.
2.    Benih-benih yang berkecambah setelah batas waktu tersebut tidak memenuhi syarat untuk dijadikan bibit.  Benih yang tidak berkecambah, benih-benih yang berkecambah setelah 4 bulan, kecambah abnormal dikumpulkan dan dibakar atau dibenamkan untuk mencegah terjadinya sumber penularan hama dan penyakit.








V.  PEMBIBITAN

5.1. Umum

Pembibitan adalah tempat pertumbuhan kecambah yang terseleksi dari bedeng pesemaian.  Tempat pembibitan dapat dilakukan pada polibag atau bedeng pembibitan. Apabila menggunakan bedeng pembibitan, kecambah yang terseleksi pada bulan 1, 2, 3 dan 4 ditanam pada bedeng pembibitan berdasarkan waktu seleksi.

5.2. Pembibitan pada polibag

Pembibitan dengan cara ini mencakup beberapa kegiatan, yaitu persiapan polibag, pengisian tanah ke dalam polibag dan pemindahan kecambah ke dalam polibag.

Persiapan polibag
1.    Polibag yang digunakan adalah polyethylene berwarna hitam dengan ukuran panjang 40 cm, tinggi 50 cm dan tebal 0.18 mm-0.20 mm (16-17 lembar polibag/kg).
2.    Pada bagian bawah polibag dibuat lobang berdiameter 5 mm dengan  menggunakan alat pembuat lobang yang disebut drift.  Dibuat tiga baris lobang dengan jarak antar baris 7 cm dan jarak antar lobang dalam baris 5 cm.  Saat ini, polibag yang dijual dipasaran sudah dibuat lobangnya.
3.    Sebelum diisi tanah polibag dibalik artinya bagian dalam menjadi bagian luar, sehingga polibag tersebut dapat berdiri tegak.

Pengisian tanah
1.    Tanah yang akan dimasukkan ke dalam polibag adalah tanah yang subur atau tanah bagian atas yang telah dipisahkan dari bahan kasar termasuk gumpalan tanah dan akar-akar gulma.
2.    Plibag diisi tanah hingga hampir penuh, dan letakkan polibag tersebut pada lokasi yang strategis dan usahakan dekat areal penanaman.
3.    Polibag diatur dengan jarak 60 cm x 60 cm x 60 cm (sistem segitiga) atau + 20.000 kitri/ha.

Pemindahan kecambah ke dalam polibag
1.    Kecambah yang terseleksi (yang telah diberi tanda dengan cat) dipindah ke polibag dari bedeng pesemaian dengan cara menggunakan besi pengungkit pada salah satu sisi benih berkecambah tersebut.
2.    Akar utama dipotong, tersisa akar utama dengan panjang 5 cm dari sabut.
3.    Tanah dalam polibag dikeluarkan 1/3 bagian diletakkan di sampingnya.
4.    Kecambah diletakkan dalam polibag dengan tunas tegak dibagian tengah.  Sebagian tanah yang dikeluarkan dikembalikan lagi ke dalam polibag hingga benih hampir tertutup.  Tanah dipadatkan disekitar benih.
5.    Kecambah yang sudah dipindah ke dalam polibag diairi untuk menjaga kelembaban.

5.3. Pembibitan tanpa polibag

Persyaratan lokasi pembibitan hampir sama dengan lokasi pesemaian, yaitu lokasi datar, dekat sumber air, dekat lokasi pesemaian, mudah dijangkau dan diawasi. Tahapan-tahapan kegiatannya sebagai berikut :
1.    Lokasi pembibitan dibersihkan dari pohon, rumput, sisa-sisa akar gulma dan lain-lain.  Tanah diolah secara manual menggunakan ternak, atau traktor dengan kedalaman pengolahan 30-40 cm.  Selanjutnya tanah digaru dua kali sehingga strukturnya gembur.
2.    Buat bedengan setinggi 24 cm, ukuran lebar dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan (panjang maksimal 25 m), antar bedengan dibuat parit drainase (pembuangan air yang berlebihan) selebar 60 cm, untuk tanah ringan dan 80 cm untuk tanah berat.  Parit berfungsi sebagai jalan kontrol.
3.    Kecambah yang terseleksi ditanam pada bedeng pembibitan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm (jarak tanam segitiga).
4.    Kecambah ditanam sedemikian rupa sehingga tunas berada +2 cm di atas permukaan tanah.  Tunas mengarah ke sebelah Timur.

Pemeliharaan pembibitan
Penyiraman bibit, pengendalian hama, penyakit dan gulma
1.    Bibit kelapa baik dalam polibag maupun pada bedeng pembibitan diairi terutama pada musim kemarau.
2.    Gulma yang tumbuh dipembibitan disiang setiap bulan. Gulma dalam polibag dicabut dengan tangan, sedangkan gulma di bedeng pembibitan caranya sama dengan di polibag tetapi untuk lebih efisien menggunakan herbisida, kalau upah buruh mahal, pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara rutin setiap bulan dengan insektisida dan fungisida,  jenis dan takarannya seperti pada pemeliharaan pesemaian.

5.4. Pemupukan bibit

Pemupukan bibit kelapa, dengan pupuk Urea, sumber N, SP-36 sebagai sumber P, KCl sumber K dan Kiserit atau Dolomit sumber Mg,  takaran pupuk berdasarkan umur bibit (Tabel 4). Pemupukan dilakukan oleh satu tim kerja sebanyak 4 orang, dapat melakukan pemupukan 2.000 polibag.

Tabel 4. Jenis dan takaran pupuk untuk bibit kelapa.

Jenis Pupuk
Umur Bibit (bulan)
1
2
3
4
5
6
7
8
Urea  (g/bibit)
5
5
5
10
10
10
10
10
SP-36  (g/bibit)
0
0
15
0
0
0
0
0
KCl  (g/bibit)
10
10
10
15
15
15
20
20
Kiserit  (g/bibit)
5
0
5
0
10
0
10
0
Catatan : - Untuk pembibitan di polibag, tanah yang akan digunakan dicampur dengan SP-36 dengan takaran 30 g/polibag.
               -  Dolomit digunakan sebagai pengganti Kiserit.  Jadi kalau sudah digunakan Kiserit tidak perlu lagi menggunakan Dolomit.
5.5. Penanaman

Penyiapan bibit yang menggunakan kantong plastik
·         Bibit siap tanam setelah berumur 6-8 bulan.
·         Beberapa hari sebelum pemindahan bibit ke lapang, hal-hal yang perlu dilakukan, yaitu :
1.      Perbaiki kantong plastik yang robek atau pecah.  Bungkus bagian yang robek lalu ikat dengan tali rafia.  Dekat sumber air sehingga mudah dilakukan penyiraman benih yang telah dideder pada bedeng pesemaian.
2.      Dua minggu sebelum penanaman, potong akar yang menembus kantong plastik, usahakan dasar kantong tidak robek.
3.      Berikan tanda kedalaman penanaman dengan cat putih pada ketinggian 6 cm di atas permukaan tanah dalam kantong plastik untuk bibit umur 6 bulan.  Jika umur bibit lebih dari 6 bulan tambahkan 1 cm setiap satu bulan pertambahan umur bibit.
4.      Perhatikan cara menangani bibit yang akan diangkat ke lapang.  Pengangkutan menggunakan gerobak atau kendaraan.
5.      Sehari sebelum diangkut ke lapangan, siramlah bibit hingga jenuh air.


VI.  PENANAMAN

6.1. Teknik penanaman kelapa dalam kantong plastik-1
1.  Bibit, pupuk SP-36 dan penakar pupuk di sekitar lubang tanam.  Dapat digunakan penakar yang terbuat dari bekas botol aqua kapasitas 200 g campurkan pupuk SP-36 dengan tanah lapisan atas.
2.  Ukur kedalaman penanaman dari dasar kantong plastik hingga tanda putih pada bibit.  Selanjutnya ukur lobang tanam berdasarkan hasil pengangkutan tadi.  Jika kurang dalam, gali hingga sesuai dengan ukuran bibit.  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman sebagai berikut :
a.    Jika bibit berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 8 bulan, lakukan seleksi dengan seksama.
b.    Beritahukan jadwal penanaman kepada petani satu bulan sebelumnya agar petani mempersiapkan lahannya dengan baik.
c.    Penanaman dilakukan awal musim hujan hingga pertengahan musim hujan agar tanaman tidak mengalami cekaman air. 
d.    Hindari penanaman bibit tertunda setelah bibit disebar di kebun.

6.2. Teknik penanaman kelapa dalam kantong plastik-2
1.    Irislah (buka) polibag secara melingkar dengan pisau tajam, mulai dari 5 cm di atas polybag, dan keluarkan bagian irisan dasar polybag.
2.    Penganglah bibit secara hati-hati dengan satu tangan memegang pangkal batang bibit dan telapak tangan lainnya menyangga bagian bawah bibit kemudian masukkan ke dalam lobang tanam.
3.    Sisa kantong polybag dikeluarkan agar akar bibit langsung menyentuh tnah yang dipadatkan.  Aturlah posisi bibit agar berdiri tegak dan lurus.
4.    Sambil menahan bibit agar jangan rebah atau miring, isilah lobang dengan tanah bagian atas yang telah dicampur dengan pupuk SP-36 kemudian padatkan tanah sekitar bibit.

6.3.  Penyiapan bibit tanpa kantong plastik
1.   Berikan tanda kedalaman penanaman pada pangkal bibit beberapa hari sebelum dicabut dengan cat putih pada ketinggian 6 cm di atas permukaan sabut.
2.   Pada saat penanaman, bibit segera dicabut dan akar dipotong sampai batas 2 cm dari permukaan sabut.
3.   Perhatikan cara menangani bibit yang diangkut ke lapang.  Pengangkutan menggunakan gerobak atau kendaraan.
4.   Bila lokasi penanaman tidak bisa dijangkau dengan gerobak atau kendaraan, maka pengangkutan bibit dilanjutkan dengan cara memikul.
5.   Satu hari sebelum pencabutan bibit, siramlah bibit hingga sabut jenuh air.

6.4. Teknik penanaman kelapa tanpa kantong plastik
1.    Sebagian tanah atas yang sudah dicampur pupuk SP-36, masukkan kedalam lobang penanaman.
2.    Ukur kedalaman penanaman dari dsar bibit hingga tanda cat putih pada bibit.  Ukur lobang tanam berdasarkan hasil tadi, jika kurang tinggi, tambahkan lagi tanah atas hingga sesuai ukuran bibit.
3.    Peganglah bibit pada pangkal batang dan masukkan ke dalam lobang tanam.  Aturlah posisi bibit agar berdiri tegak dan tampak lurus dari segala arah sesuai jarak dan sistem tanam.
4.    Tutuplah lobang dan padatkan tanah sekitar bibit.  Usahakan bidang tanah sekitar bibit permukaannya agak cembung agar tidak mudah tergenang air.


VII.  PEMELIHARAAN TANAMAN

7.1. Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma secara fisik disekitar tanaman dan blok pertanaman :
1.    Gulma disekitar pohon dapat dibobokor atau penyiangan piringan memakai alat cangkul dengan jari-jari 1-2 m dari pangkal batang.  Selesai bobokor dapat dilakukan pemupukan sesuai takaran.  bobokor dilakukan 3 bulan sekali.
2.    Pada tanaman mulai berproduksi selesai bobokor dapat diberi sabut atau daun kelapa secara teratur.  Selain mencegah gulma, juga dapat menambah unsur hara pada tanaman.
3.    Gulma dalam blok pertanaman dikendalikan dengan membabat.
Pengendalian gulma secara mekanis
1.    Gulma dalam blok dapat dilakukan pembabatan dengan traktor atau hand slasher.
2.    Selain pembabatan dapat juga dilakukan pembajakan tanah untuk menggemburkan tanah,  dilakukan dua tahun sekali.

Pengendalian gulma secara kimia
1.    Siapkan alat penyemprot seperti sprayer solo dan bahan kimia seperti basmilang atau round-up dan air.
2.    Buatlah larutan semprot sesuai aturan pemakaian.  Sebagai contoh, apabila menyemprot alang-alang menggunakan sprayer solo dengan  kapasitas 14 liter air, gunakan 250 cc herbisida setiap kali mencampur.
3.    Gulma disekitar kelapa disemprot dengan round-up atau basmilang.
4.    Untuk menyemprot lahan yang luas perlu disiapkan air dalam drum agar mudah melakukan penyemprotan.

7.2. Pemupukan

Jumlah pupuk yang diberikan pada tanaman Kelapa Dalam tergantung umur tanaman dan, ketersediaan hara dalam tanah, yakni:
1.    Pertama siapkan wadah pengukur seperti botol plastik air mineral, yang sudah diberi tanda batas sebagai jumlahberat setiap jenis dan dosis pupuk yang diperlukan.
2.    Setelah wadah pengukur, pupuk dan bobokor telah disiapkan, taburlah pupuk pada areal bobokor.  Untuk tanaman yang baru ditanam, pemupukan dilakukan 3 bulan setelah penanaman.  Pupuk ditabur di daerah bobokor dengan jari-jari 50 cm, kemudian ditutup dengan tanah.
3.    Pada tanaman berumur 2 tahun, pupuk ditabur pada daerah bobokor dengan jari-jari 100 cm,  kemudian ditutup dengan tanah.
4.    Tanaman berumur 3-4 tahun, pupuk ditabur sesuai dosis di daerah bobokor dengan jari-jari 150 cm, kemudian ditutup dengan tanah.


Tabel 5. Jenis pupuk, takaran dan waktu pemupukan

Jenis pupuk
Tahun  I
Tahun  II
Tahun  III
Tahun  IV

........................ g/phn/thn ..............................
Urea
250
250
500
700
SP-36
175
175
350
500
KCl
350
350
700
1.500
Kieserite
50
100
150
200
Borax
-
10
20
30
Jumlah
825
1.660
2.545
3.480

Cara dan takaran pupuk-2
1.    Pada tanaman umur 5 tahun sampai tanaman dewasa, pupuk ditabur pada daerah bobokor dengan jari-jari 150 cm.
2.    Setelah pupuk ditabur pada daerah bobokor, maka tutuplah atau campurlah pupuk tersebut dengan tanah menggunakan cangkul.  Hal ini penting agar pupuk tidak menguap atau tererosi oleh air hujan.  Pemupukan dilakukan pada awal musim penghujan.


VIII. HAMA DAN PENYAKIT KELAPA UTAMA KELAPA

8.1. Hama Oryctes rhinoceros

Biologi
1.    Telur diletakkan oleh kumbang betina pada tempat berkembangbiak (sarang) yang sesuai seperti batang kelapa yang sudah lapuk, kotoran hewan, tumpukan serbuk gergaji dan bahan organik lain, stadium telur berlangsung selama 8-12 hari.
2.    Larva hidup dalam sarang mengalami tiga instar. Periode larva instar pertama 10-21 hari, instar kedua 12-21 hari dan instar ketiga 160-165 hari. Hama ini mengalami masa prepupa selama 8-13 hari dan pupa 17-28 hari, dan kumbang terbentuk beristirahat dalam sarang selama 3 minggu kemudian terbang mencari makan dan pasangan.  Lama hidup kumbang jantan 6,4 bulan dan kumbang betina 9,1 bulan.
Gejala serangan
Kumbang Oryctes memakan pelepah daun muda yang belum terbuka, bekas gigitan akan menyebabkan daun seperti tergunting dan jelas terlihat setelah pelepah daun terbuka.
Pengendalian
1.    Pengendalian dapat dilakukan melalui aplikasi Metarhizium (15 g media cendawan/m2 sarang) atau pelepasan kumbang terinfeksi Baculovirus(10 kumbang/ha).
2.    Tindakan lain yang dapat dilakukan untuk mengendalikan Oryctes adalah penanaman tanaman penutup tanah pada areal peremajaan, sanitasi kebun, pemanfaatan feromon, dan pada tanaman muda dapat digunakan mimba.

8.2. Sexava

Hama Sexava terdiri atas tiga spesies, yaitu Sexava nubila, Sexava coriacea dan Sexava karnyi.
Biologi
1.    Telur Sexavaseperti gabah padi, panjangnya 12 mm dan lebar 2 mm.  Lama stadia telur + 50 hari.
2.    Nimfa yang baru menetas panjang badannya 12 mm, sedangkan nimfa tua 6 cm.  Lama stadia nimfa 70-108 hari.
3.    Imago betina panjang badannya 9.5-10.5 cm, ovipasitor 3-3.5 cm dan antenanya 16 cm.  Imago jantan panjang badannya 6-9.5 cm dan antena 14-16 cm.  Daur hidup + 5 bulan.
Gejala serangan
Hama Sexava dapat menyebabkan dua tipe kerusakan, yaitu (a) langsung merusak buah muda, bila serangan ringan buah dapat berkembang menjadi matang tetapi bila serangan berat buah akan gugur, dan (b) merusak daun sehingga serangan berat hanya tinggal lidi dan lama kelamaan tanaman mati.  Pada tanaman dewasa dapat mengurangi produksi dan tanaman muda pertumbuhan terhambat.
Pengendalian
Pengendalian dilakukan secara kultur teknis melalui penanaman tanaman sela dan sanitasi kebun.  Selain itu, dapat dilakukan secara hayati dengan pelepasan parasitoid Leefmansiabicolor dan penggunaan bioinsektisida Metabron. Dapat juga digunakan lem serangga dan perangkap Sexava.  Serangan berat, dengan insektisida sistemik spontan 400 WSC dan Montaf 400 SL (b.a. Dimehipo atau Bisultap 400 g/l) 10 ml per pohon.

8.3. Ulat Api/Ulat Siput

Banyak spesies yang sudah diketahui merusak tanaman kelapa di Indonesia.  Hama itu umumnya termasuk dalam genus Parasa, Setora, Thosea, Darna, Chalcocelis dan Pectinarosa.
Biologi
1.    Bentuk telur lonjong dan ramping dengan panjang sekitar 1-2.5 mm.  Stadia telur 3-10 hari.
2.    Larva yang baru menetas biasanya makan kulit telur kemudian makan bagian atau permukaan daun.  Larva terdiri atas 7-11 instar dan lamanya stadia larva 4-10 minggu, dan pupa biasanya berada pada tanaman inang, di tanah atau pada daun yang jatuh.  lama stadia pupa 1-7 minggu.
3.    Imago ukuran kecil sampai sedang.  Serangga betina biasanya lebih besar dari jantan.
Gejala Serangan
            Larva muda hanya mampu makan epidermis daun sebelah bawah tetapi bagian atasnya juga akan mati,  kelihatan daun seperti terbakar.  Instar lebih tua dapat memakan seluruh lamina daun kecuali bagian yang paling dekat dengan rachis, serangan berat hanya tinggal lidi.
Pengendalian
Dialam banyak musuh alami yang menyerang ulat api/ualt siput baik parasitoid, predator dan patogen.  Musuh alami tersebut antara lain Apanteles parasae, Chaetexorista javana, Chantheconidea, Sicanus, Beauveria, Cordyceps dan Nuclear Polyhedrasis Virus. Insektisda digunakan apabila pada setiap pelepah yang diamati (10 pohon per areal serangan) terdapat lebih dari 30 larva muda.




8.4. Arthona catoxantha

            Hama ini dapat menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman kelapa di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
Biologi
1.    Telur berbentuk oval, bening, berwarna kuning berukuran 0.6 mm x 0.5 mm, berkelompok 3-13 butir.  Telur menetas 3-5 hari.
2.    Larva hampir sama dengan Ulat Siput.  Kepala larva muda berwarna kuning dan larva tua kuning merah.  Panjang badan 11 mm – 12 mm. Lma stadia larva 16-23 hari.
3.    Pupa muda berwarna kekuning-kuningan, sedangkan pupa tua kelihatan bakal sayap dan mata berwarna hitam.  Panjang pupa 12 mm-14 mm dan lebar 6 mm-7 mm.  Lama stadia pupa 8-13 hari, dan imago berwarna coklat kehitaman pada bagian atas dan kuning pada bagian bawah.  Perkembangan dari telur menjadi imago adalah 31-35 hari.
Gejalan serangan
            Pada tingkat serangan berat, tanaman terserang tidak mati walaupun hampir seluruh daun kering.  Setelah 2-3 bulan, buah muda mulai gugur kemudian diikuti oleh buah tua.
Pengendalian
Salah satu parasitoid utama adalah Apanteles artonaeyang mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mencari inang walaupun populasi rendah.  Parasitoid lain yang potensial adalah Bessa remota.  Dianjurkan menggunakan insektisida sistemik apabila terdapat lebih dari 3 butir telur dan larva muda per anak daun yang diamati.

8.5. Brontispa longissima

Biologi
1.    Telur berwarna coklat, berbentuk pipih, dan diletakkan pada daun muda yang belum terbuka.  Lama stadia telur 4-7 hari.
2.    Larva yang baru menetas dari telur berwarna putih, sedangkan larva dewasa berwarna sekuning-kuningan.  Larva terdiri atas 5 instar, lama stadia larva 35-54 hari, dan pupa yang baru terbentuk berwarna putih kekuning-kuningan. Stadia pupa 4-6 hari.
3.    Kumbang biasanya takut cahaya sehingga pada siang hari beristirahat di dalam janur kelapa.  Tetapi pada malam hari kumbang aktif dan menyerang tanaman kelapa.  Lama hidup kumbang 2.5-3 bulan.
Gejala serangan
Kumbang  dan larva merusak pucuk sehingga daun mengering dan secara tidak langsung dapat  mempengaruhi produksi.  Serangan berat dapat menyebabkan buah gugur dan lama kelamaan tanaman akan mati.
Pengendalian
1.    Cendawan Metarhizium anisopliae var. Anisopliae dan Beauveria dapat menginfeksi larva dan kumbang Brontispa.
2.    Populasi hama Brontispadapat dikendalikan dengan pelepasan parasitoid pupa Tetrastichus brontispae, dan penggunaan insektisida apabila rata-rata kumbang  10 ekor per tanaman (diamati 10 pohon contoh).
8.6. Promocotheca

Dua spesies yang menyerang tanaman kelapa, yaitu Promecotheca cumingii dan Promecotheca soror. P. cumingii berwarna coklat atau coklat kemerahan, sedangkan P. sororberwarna hitam pada bagian sayap depan.
Biologi
1.    Telur diletakkan oleh kumbang betina pada bagian bawah anak daun kemudian ditutupi dengan kotoran.  Lama stadia telur 9-12 hari.
2.    Larva menggerek dan masuk di antara lamina daun, dan setiap gerekan dapat mencapai 20 cm atau ukuran 10 x 1 cm, stadia larva 21-28 hari.
3.    Pupa berlangsung di antara jaringan anak daun selama 8-12 hari.
4.    Kumbang Promecothecahidup 2.5 bulan dan dapat meletakkan sebanyak 12 butir telur.  Perkembangan telur sampai imago 7-8.5 minggu.
Gejala serangan
            Daun yang diserang oleh hama ini jaringannya akan mati sehingga berubah warna menjadi coklat, dan apabila seangan berat, pertama kelihatan seperti terbakar dan buah akan gugur.
Pengendalian
Pengendalian pada tanaman muda, dapat dilakukan secara mekanik dengan mengumpul larva, pupa dan imago kemudian dimusnahkan.  Hama ini mempunyai beberapa musuh alami yang potensial mengendalikan populasi di alam diantaranya adalah parasitoid telur Achrysocharis promecothecae, parasitoid larva Dimmochia javanicus, dan parasitoid larva/pupa Pediobius parvulus.  Pengendalian kimia dianjurkan apabila terdapat rata-rata lebih dari 1 ekor larva per anak daun.

8.7. Kumbang Bibit Kelapa Plesispa reichei

Plesispa reichei merupakan salah satu hama pada bibit kelapa maupun tanaman muda di lapang.
Biologi
  1. Telur diletakkan oleh kumbang betina pada daun belum terbuka.  Lamanya 5-9 hari, larva terdiri atas 4 instar dengan total periode 22-32 hari, dan periode pre-pupa selama 2-8 hari dan pupa 5-12 hari.
  2. Kumbang dapat hidup 101-202 hari.  Daur hidup antara 31-46 hari.   Kumbang betina mulai meletakkan telur 17-37 hari setelah kopulasi.
Gejala serangan
            Kumbang dan larva merusak daun muda yang belum terbuka.  Akibat serangannya akan terlihat garis memanjang berwarna coklat.  Pada serangan berat, daun terlihat berwarna kecoklatan.
Pengendalian
            Secara mekanik, larva dan kumbang dapat dikumpulkan dan dimusnahkan.  Beberapa parasitoid yang dapat menekan populasi di lapang adalah parasitoid telur Ooencyrtus, Trichogrammatoidea dan parasitoid pupa Tetrastichus.   Selain itu hama ini juga dapat dikendalikan dengan cendawan Metarhizium anisopliae var. anisopliae.  Serangan berat, dapat digunakan insektisida.

8.8.   Penyakit Bercak Daun ( Bercak kelabu Pestalotipsis palmarum)
           
         Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis palmarum, pada awalnya disebut sebagai Pestalotia (Pestalozzia) palmarum.
Gejala serangan
            Mula-mula terjadi bercak-bercak yang tembus cahaya pada daun,  kemudian menjadi coklat kekuningan dan akhirnya menjadi kelabu.  Bagian kelabu ini dikelilingi oleh tepi coklat tua.  Lama kelamaan bercak-bercak dapat bersatu sehingga terjadi bercak yang lebih besar.  Pada bercak terdapat bintik-bintik yang terdiri atas tubuh buah cendawan (Aseroulus).  Pada tingkat selanjutnya daun kelihatan seperti terbakar.  Biasanya daun yang sakit akan lebih cepat mati.
Pengendalian
·         Usahakan pembibitan dan tanaman muda berada dalam kondisi yang baik, seperti pemberian air yang cukup dan pemupukan yang seimbang.  Pupuk kalium akan meningkatkan ketahanan tanaman.
·         Gunakan fungisida apabila lebih dari 25% permukaan daun ditutupi bercak.  Dapat digunakan fungisida Cobox 05%, Dithane M-45 0.3% dan Daconil 75 WP 0.2%.

8.9.   Bercak coklat
        
         Bercak coklat disebabkan oleh cendawan Helminthosporium incuroatum dan Curoalaria maculans.  Kedua cendawan ini sering terdapat pada satu tanaman. 
Gejala penyakit
            Mula-mula pada daun yang baru terbuka terjadi bercak kecil bulat, berwarna kuning.  Bercak membesar dan berubah menjadi warna coklat tua.  Bercak dapat bersatu dan membentuk bercak lebih besar yang bentuknya tidak teratur, dengan pusat nekrotik (mati) yang berwarna coklat tua atau coklat kelabu.
Pengendalian
            Di pembibitan, daun sakit dipotong dan dibakar agar penyakit tidak meluas.  Gunakan fungisida apabila lebih dari 25% luas permukaan daun ditutupi bercak.  Pembibitan dapat dilindungi dengan fungisida Dithane M-45 dan Daconil 75 WP.

8.10.   Penyakit Bercak Kuning

Penyakit ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman kelapa Dalam berumur + 20 tahun di Pedukuhan Simpang, Desa Samuda Kota, Kabupaten Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah.
Gejala
            Pohon yang terserang terlihat bercak-bercak kering suram pada daun tua sampai daun keempat dari pucuk.  Bila diamati dari dekat, bercak tersebut berwarna agak kecoklatan mengkilap seperti terkena tetesan minyak.  Gejala lanjut, bercak-bercak akan bersatu dan mengakibatkan daun menjadi kering.  Pada tahap ini, pelepah daun akan terkulai pada pangkalnya dan lama kelamaan menggantung di sekitar batang.  Buah menjadi tidak normal, kecil, memanjang dan kebanyakan tidak ada tempurungnya.  Bunga diantaranya tidak normal, tangkai bunga tidak tegak tetapi membengkok dan terkulai ke bawah dan selanjutnya kering.

8.11.  Penyakit Daun Menguning

          Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Sulawesi Tengah, dengan gejala khas adalah daun menguning dan merata pada semua daun.  Gejala penyakit dimulai pada daun tua, yaitu pada pelepah bagian bawah dan dimulai dari ujung menuju ke bagian pangkal helai daun dan akhirnya seluruh daun berubah menjadi kuning.  Daun pada pohon yang sudah lama terserang menjadi lebih kecil.  Jumlah pelepah dan buat per tandan berkurang.

8.12.   Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk dan Gugur Buah.

            Penyakit busuk pucuk (PBP) dan penyakit gugur buah (PGB) disebabkan oleh cendawan  Phytophthora palmivora (Butler). PBP dapat menimbulkan kerusakan yang sangat berat pada tanaman kelapa, terutama pada kultivar yang rentan seperti West African Tall (WAT), Nias Yellowing Dwarf (NYD) dan Malayan Yellowing Dwarf (MYD).  Di Sulawesi Utara, PBP menyerang juga tanaman kelapa Dalam lokal yang ditanam disekitar lokasi serangan penyakit tersebut. PGB menyerang buah kelapa yang berumur 3-7 bulan dan mengakibatkan kehilangan hasil berkisar antara 50-75%.           Gejala awal PGB, adanya bercak-bercak tidak teraturan, berwarna coklat terang dan kebasah-basahan pada buah sebelum jatuh.  Bercak ini berkembang dan berubah warna menjadi gelap, akhirnya menjadi cekung dan kering, bagian atas dari bercak agak basah.  Pada stadia lebih lanjut bercak makin meluas pada permukaan buah.  Gugur buah terjadi apabila bercak sudah mencapai perianth, dan biasanya perianth tetap menempel pada tangkai buah setelah buah gugur.  Kadang-kadang bercak pada kulit buah belum mencapai perianth sudah terjadi keguguran buah.  Waktu gejala nampak sampai buah gugur berkisar 3-4 minggu.  Periode ini akan lebih pendek pada buah kelapa yang masih muda.
Pengendalian
            Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah eradikasi/pemusnahan tanaman terserang, sanitasi, karantina tanaman dan pengendalian kimia dengan fungisida sistemik seperti Fosetyl-Al dosis 8 g bahan aktif per enam bulan dan injeksi akar dengan 8 g Aliette CA atau 5.6 g Phosphoric acid per pohon per tahun.








IX. PANEN DAN PENGOLAHAN

9.1. Panen Kelapa
Pelaksanaan panen buah kelapa dan perlengkapannya sebagai berikut :
  1. Panen buah kelapa pada pohon yang masih rendah 5-8 m dapat menggunakan tangga bambu dan galah bambu yang ujungnya dipasang sabit, jika tinggi pohon lebih dari 8 m dilakukan dengan cara memanjat.
  2. Pilih tandan buah yang sudah tua berumur 11-12 bulan, yang ditandai kulit buah berwarna agak coklat hingga coklat.
  3. Kelapa yang dipanen dipisahkan dari tandannya dan dikumpulkan disekitar pangkal batang kelapa.
  4. Buah kelapa diangkut dengan pedati atau gerobak dan dikumpulkan pada tempat penimbunan kelapa atau disekitar tempat pengolahan kopra.
  5. Panen kelapa dilakukan 2-3 bulan sekali sebanyak 2-3 tandan buah.
  6. Kemampuan kerja :
-       Panen 30-50 pohon/hari orang kerja.
-       Pengumpulan buah, 600-800 buah/hari orang kerja.
-       Daya angkut pedati, 400-500 buah.

9.2. Pengolahan Kopra
            Untuk pengolahan kopra diperlukan perlengkapan dan pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :
1.     Buah kelapa yang telah dikupas, dibelah menggunakan parang dan belahan kelapa siap untuk dikeringkan menjadi kopra.
2.     Pengeringan kopra dilakukan dengan sinar matahari atau menggunakan alat pengering kopra buatan.  Pengeringan dengan sinar matahari membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak dan hanya dilakukan jika cuaca baik (musim panas).
Belahan kelapa yang dikeringkan dengan alat pengering kopra buatan, disusun pada rak-rak dan dipnaskan dengan bahan bakar arang tempurung kelapa.  Pengeriangan dapat juga dengan alat pengering kontruksi tungku bata dengan bahan bakar sabut kelapa.
3.     Belahan kelapa yang dagingnya agak kering dicungkil dengan alat pencungkil, dipotong-potong dan dikeirngkan lagi hingga diperoleh kopra berkadar air 5-6%.
4.     Kopra kering yang berkadar air 5-6%, dimasukkan ke dalam karung goni siap untuk dijual.
5.     Kemampuan kerja pengolahan kopra sebagai berikut :
-       Pembelahan buah kelapa; 1.500-2.000 butir/hari orang kerja.
-       Pencungkilan daging buah; 800-1.000 butir/hari orang kerja.
-       Kapasitas tipe Balitka; 250 butir/periode pengeringan.
-       Lama pengeringan kopra dengan alat pengering 24-30 jam.
-       Lama pengeringan kopra dengan sinar matahari pada cuaca baik berkisar 4 hari.


9.3. Pembuatan Minyak Klentik
            Pengolahan minyak klentik dengan tahapan sebagai berikut :
  1. Daging buah kelapa dicungkil kemudian diparut dan dikumpulkan dalam wadah penampungan.  Dilakukan penambahan air panas ke dalam daging kelapa parut dengan perbandingan 1:1, campuran diaduk dan didinginkan.
  2. Campuran kelapa parut dan air diperas dan hasil perasan disaring diperoleh santan dan ampas.
  3. Santan didiamkan selama 2 jam, lapisan bagian atas (krim) dipisahkan dan dimasak dengan menggunakan wajan.
  4. Selama pemasakkan dilakukan pengadukan secara terus menerus dengan menggerus bagian dasar wajan.
  5. Pemasakkan santan dihentikan jika blondo telah berwarna coklat muda sampai coklat, didinginkan, disaring diperoleh minyak klentik dan blondo.
  6. Minyak klentik dibotolkan dan siap dikonsumsi atau dijual.
  7. 7-9 butir kelapa akan menghasilkan 1 kg minyak klentik, 2 kg ampas basah dan 0.1 kg blondo.
  8. Minyak klentik berwarna kuning muda dengan aroma khas.
  9. Lama pemasakan santan menjadi minyak klentik 2 jam.
  10. Ampas dan blondo dapat digunakan sebagai pakan ternak.

9.4. Pengolahan Arang Tempurung
            Pengarangan tempurung dapat dilakukan dengan dua cara, yakni menggunakan drum dan lobang tanah yang dibetonisasi.
  1. Pembakaran dimulai dengan memasukkan beberapa belahan tempurung kering dan disiram dengan minyak tanah agar memudahkan terbakarnya tempurung.
  2. Apabila tempurung ini telah menyala dengan baik, tempurung ditambahkan ke dalam drum atau lobang tanah sampai penuh.  Penambahan ini dapat dilakukan sebanyak tiga kali.
Tempurung terakhir telah terbakar dengan sempurna, yang ditandai api berwarna kebiru-biruan dan adanya letupan nyala dipermukaan drum atau lobang, drum atau lobang ditutup rapat agar tidak ada udara yang masuk ke ruang pembakaran.
  1. Proses pengarangan telah selesai jika drum atau penutup lobang telah menjadi dingin, arang dikeluarkan dari tempat pembakaran dan disortir sehingga diperoleh arang tempurung.
  2. Hasil pengarangan sebagai berikut :
-       Rendemen arang 25-30% dari berat tempurung.
-       Tempurung 1.000 belahan 20-22 kg arang.
-       Kapasitas drum 50-60 kg/periode proses.
-       Kapasitas lobang tanah dibetonisasi 100-150 kg/periode proses.
-       Lama proses pengarangan tempurung 5-6 jam/periode proses.




9.5. Pengolahan Serat Sabut.
            Pemisahan serat dan sabut kelapa dapat  dilakukan secara mekanis dan biologis.  Cara yang popular dan praktis dilakukan adalah cara mekanis dengan menggunakan alat Decorticator (penghancur sabut).  Proses pengolahan sebagai berikut :
  1. Sabut kelapa ditimbun disekitar unit penghancur sabut (decorticator).
  2. Sabut utuh dipilah-pilah sesuai ukuran corong pemasukan bahan olah pada decorticator.
  3. Potongan sabut dimasukkan ke dalam corong tersebut.
  4. Proses pemisahan serat secara mekanis dalam ruang penghancur sabut dan hasil penghancuran sabut didorong keluar secara otomatik, lewat saringan berputar sehingga serat sabut dan debu sabut akan terpisah.
  5. Serat sabut dikeringkan dengan sinar matahari.  Setelah pengeringan akan diperoleh serat kering.  Serat sabut dikemas dalam bentuk ball atau dimasukkan kedalam karung goni.
  6. 75 butir kelapa menghasilkan sabut segar 61.8 kg, dengan decorticator tipe Balitka :
-  Kapasitas olah 50 kg sabut/jam.
-  Konsumsi listrik 50 kg sabut/jam.
- Kondisi hasil olah : serat 36.7-37.7%, debu serat 51.8-62.7%,  loss 7.7-10.5%, warna serat kuning muda-coklat muda, dan lama pengeringan serat sabut pada cuaca baik 4-6 jam.

9.6. Pengolahan  Sari Kelapa
            Pengolahan sari kelapa (nata de coco) dari air kelapa, prosesnya sebagai berikut :
1.      Air kelapa disaring dan ditampung pada wadah penampung yang bersih, ditambahkan gula pasir agar diperoleh air kelapa berkadar gula sekitar 8%.
2.      Campuran air kelapa-gula dimasak sampai mendidih lalu didinginkan.
3.      Pada campuran air kelapa-gula ditambahkan cairan bibit nata 15%, dan asam asetat glacial agar diperoleh larutan dengan pH 4.  Campuran dimasukkan dalam wadah gelas ditutupi kain saring dan difermentasi pada suhu 20-30oC selama 7-10 hari.
4.      Setelah penyimpanan akan terbentuk lapisan pada permukaan cairan berwarna putih transparan, yakni lapisan nata.  Lapisan nata diangkat, dicuci, direndam dengan air bersih, direbus sampai mendidih dan didinginkan diperoleh sari kelapa.
5.      Sari kelapa dipotong dengan ukuran yang diinginkan ditambahkan sirop, siap untuk dikonsumsi.
6.      Air buah kelapa umur 11-12 bulan mengandung gula 2.0-2.6%.  Untuk dijadikan bahan baku nata de coco kadar gula ditingkatkan menjadi 8%, sehingga perlu penambahan gula 5.4-6.0%.
7.      Bibit nata adalah larutan yang terinkubsi Acetobacter xylinum.  Fermentasi campuran air kelapa dan bahan lainnya akan menghasilkan nata dengan tebal lapisan nata 1.5-2.0 cm dan rendemen nata de coco 70-80% dari air kelapa.
9.7. Penyadapan Nira Kelapa
            Penyadapan nira kelapa dan perlakuan selama penyadapan sebagai berikut :
  1. Dipilih mayang yang belum mekar.
  2. Mayang diikat dan digoyang-goyang agar lemas sehingga memudahkan keluarnya nira.  Tandan bunga dibengkokkan dan ditahan dengan tali.
  3. Ujung mayang dipotong dipasang wadah penampung dari bambu atau jerigen plastik untuk volume 5 liter.
  4. Bambu diikat pada pelepah daun.  Setiap pengambilan nira ujung tandan disayat setebal 2 mm.
  5. Mayang yang telah diikat digoyang-goyang selama 15 menit.  Penggoyangan mayang dua kali dalam sehari selama satu minggu.  Ujung mayang dipotong sehingga nira akan menetes.
  6. Penyadapan nira kelapa dilakukan pada tanaman tidak produktif dan kemampuan penyadapan per petani 25-30 pohon/hari dan satu pohon kelapa dapat menghasilkan 1.0-1.2 l nira/hari.

9.8. Pengolahan Gula Cetak
      Pengolahan gula cetak menggunakan peralatan dan prosesnya sebagai berikut :
1.     Nira disaring, diukur pH-nya dengan kertas lakmus.  Nira dengan pH 6-7 layak dijadikan bahan baku pembuatan gula cetak yang ditandai cairan nira berwarna bening dan aroma normal.
2.     Nira dimasak sambil diaduk,  selama pemasakkan diberikan sedikit minyak goreng agar luapan busa dapat diperkecil.
3.     Pemasakkan dihentikan apabila gula yang kental meletup-letup. Wajan diangkat dari tungku didinginkan selama 15-20 menit.  Pengadukan terus dilanjutkan agar kekentalannya seragam dan mudah dicetak.
Agar gula cetak tidak lengket, alat cetak berupa potongan bambu atau belahan tempurung terlebih dahulu direndam dalam air.  Cetakan diangkat dan disusun berjajar diatas meja.
4.     Cairan gula dituangkan ke dalam cetakan, setelah padat dan dingin, diangkat dan dianginkan lagi,  kemudian dikemas, dan siap dijual/dikonsumsi..
5.     100 liter nira menghasilkan gula cetak 18 kg.
6.     Cara pengawetan nira :
a.    Penampung nira bersih dan ditambahkan bahan pengawet berupa 1.5 g kapur; 20 ml Natrium Metabisulfit 0.1%/l nira, pengawet alami daun ginggihiang (Leea aequata Linn).
b.    Penampung dicuci dengan air mendidih.

9.9. Pengolahan Gula Semut
            Pengolahan gula semut dari nira kelapa sebagai berikut :
1.    Nira disaring, diukur pH-nya dengan kertas lakmus.  Nira yang layak dijadikan bahan baku pembuatan gula semut adalah pH 6-7, ditandai dengan warna cairan nira bening dan aroma normal.
2.    Nira dimasak, selama pemasakkan diberikan sedikit minyak goreng agar luapan busa dapat diperkecil.
3.    Pada pembuatan gula semut, cairan gula yang sedang dimasak diaduk terus hingga diperoleh kristal gula berwarna coklat.
4.    Untuk keseragaman butiran kristal dilakukan pengayakan dengan ayakan berdiameter lobang 1.0-1.5 mm.  Jika dijumpai kristal yang tidak lewat ayakan, dilakukan penggerusan secara berulang dan diayak sehingga diperoleh gula semut.
5.    Gula semut dikeringkan dengan sinar matahari didinginkan dan dikemas dalam kantong plastik, ukuran kemasan 250-500 g.  Dalam 100 liter menghasilkan sekitar 7.5 kg gula semut.

9.10.  Pemanfaatan Kayu Kelapa
          Pemanfaatan batang kelapa untuk menghasilkan kayu kelapa disesuaikan dengan sifat kekerasan kayu dan tujuan penggunaannya.  Proses pengolahannya adalah sebagai berikut :
  1. Pohon kelapa berumur 60 tahun atau lebih ditebang.
  2. Penggelondongan batang kelapa dibagi dalam tiga kelompok, yakni bagian pangkal (8 m dari pokok batang), tengah (lebih dari 8 m-16 m) dan ujung (lebih dari 16 m).  Penggergajian batang kelapa, dilakukan untuk memisahkan bagian luar yang telah ditakik dan bagian dalam batang yang lunak.  Selanjutnya kayu kelapa digergaji dalam bentuk balok atau papan.
  3. Bagian ujung batang kelapa yang tidak layak dibuat balok atau papan digergaji dalam bentuk mot atau gelondongan dengan panjang 60 cm.  Mot batang kelapa digunakan sebagai bahan bakar.  Sedangkan bagian dalam lebih sesuai digunakan sebagai bahan bakar atau bahan kemasan hasil pertanian karena bagian ini lunak dan mudah rusak.
  4. Untuk keawetan kayu kelapa yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan meubel dan bahan bangunan, dilakukan pengawetan dengan cara sederhana dan murah, yakni merendam balok atau papan dalam minyak tanah, solar dan larutan tanin selama satu hari, kemudian dikering-anginkan.
  5. Satu pohon kelapa panjang 25-30 m, volumenya 1.05 m3 jika digergaji akan menghasilkan : balok/papan kualitas 1 : 0.20 m3,  balok/papan kualitas 2 : 0.15-20 m3, dan  m kayu bakar 25-30 ujung.

9.11.   Aneka Produk Kelapa
            Aneka Produk kelapa dan penangannya sebagai berikut :
1.      Berbagai produk yang dapat dihasilkan dari daging kelapa dan mempunyai pasaran cukup luas, antara lain kelapa parut kering, tepung kelapa, santan awet, oleokimia.  Namun penanganannya membutuhkan teknologi yang cukup canggih dan biaya yang besar, sehingga sulit dilakukan oleh petani dengan usaha skala kecil.
2.      Berbagai produk yang dapat dihasilkan selain dari daging kelapa dan mempunyai pasaran cukup luas, antara lain arang aktif, minuman ringan, meubel kayu kelapa dan harbord sabut kelapa.
3.       Penanganan aneka produk ini, membutuhkan teknologi yang cukup canggih dan biaya besar, sehingga sulit dilakukan oleh petani dengan usaha skala kecil.
4.      Beberapa produk yang memungkinkan dilakukan oleh petani atau industri kecil, antara lain asam cuka, kecap, alkohol, genteng, selei dan lain-lain.  Namun teknologi yang dihasilkan saat ini perlu dimodifikasi dan dikaji secara tekno-ekonomi dan kebutuhan pasar, agar menguntungkan petani/ perajin.


X.  PEREMAJAAN KELAPA

10.1.  Kriteria Peremajaan
          Tanaman kelapa diremajakan jika telah berumur 60 tahun atau lebih walaupun masih berbuah, sudah tinggi sehingga biaya pemanjatan meningkat .  Peremajaan juga dilakukan pada pohon kelapa berumur kurang dari 60 tahun,  jika produksi buahnya kurang dari 30 butir/pohon/tahun.
            Apabila daerah pertanaman kelapa tidak cocok untuk kelapa, sebaiknya tidak diremajakan lagi dan usahakan pemanfaatan lahan tersebut untuk komoditas lain. Pada pengembangan wilayah, agar tidak mengganggu kebutuhan bahan baku kelapa dalam jangka panjang,   pohon yang dapat diremajakan dalam satu wilayah (provinsi, kabupaten, kecamatan) maksimal sebanyak 15-16% dari populasi tanaman.

10.2.  Metode Peremajaan
          Metode peremajaan yang dianjurkan adalah tebang bertahap dan dalam keadaan tertentu tebang habis.

Metode Tebang Bertahap (MTB)
1.    Lakukan pengajiran dan pembuatan lobang tanam sesuai jarak dan sistem tanam yang diinginkan (disarankan sistem pagar 6 m x  16 m).  Sebelum pengajiran, tanah diolah untuk persiapan tanaman sela.  Usahakan seluruh kegiatan ini selesai pada awal musim hujan.
2.    Penanaman kelapa penganti pada awal musim hujan sekurang-kurangnya sehari sebelum penanaman tanaman sela (semusim).  Atur agar areal 1-1.5 m sekitar kelapa pengganti bebas dari tanaman sela.  Penebangan kelapa tua dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat kepadatan kelapa tua.  Penebangan kelapa tua dilakukan setelah panen tanaman sela. Pada tahun pertama penebangan hanya dilakukan terhadap pohon yang tidak produktif atau dekat tanaman pengganti.
3.    Batang kelapa dijual gelondongan atau diolah menjadi kayu kelapa.  Bagian lunak dan pucuk dikumpulkan dan dikeluarkan dari areal peremajaan dan dibakar untuk mencegah perkembangan Oryctes.  Sisa-sisa pengolahan kelapa dapat dijadikan kayu bakar dan sisanya dikumpulkan lalu dibakar.
4.    Pada saat pertanaman kelapa pengganti populasi kelapa tua tinggal 80% berarti penebangan baru dimulai tahun ke-2, kecuali tanaman yang dekat dengan tanaman pengganti.
5.    Apabila populasi hanya 70%, berarti penebangan tahun ke-2 hanya 10%, dan seterusnya hingga pada tahun ke-5 penebangan selesai dilaksanakan.
6.    Keuntungan MTB; pendapatan petani tidak terputus karena masih ada produksi buah dari pohon kelapa yang belum ditebang.

Metode Tebang Habis (MTH)
            Metode tebang habis yaitu kelapa tua ditebang seluruhnya sebelum kelapa pengganti ditanam.
1.    Metode tebang habis diterapkan pada pertanaman kelapa yang rusak akibat serangan hama dan penyakit.  Hal ini dimaksudkan agar tanaman tua tidak menjadi sumber penularan hama dan penyakit.
2.    Kelapa tua ditebang dan dirobohkan dengan menggunakan chainsaw.  Merobohkan kelapa dengan cara menggali pangkal batang lebih baik arena tidak meninggalkan tunggul, tetapi biayanya lebih mahal. Batang kelapa diolah menjadi kayu olahan dan sebagian menjadi kayu bakar. Sisa-sisa pohon yang ditebang, dikeluarkan dari lokasi peremajaan dan dibakar agar tidak menjadi sarang hama terutama kumbang Oryctes.
3.    Penanaman kelapa pengganti, yaitu kelapa Dalam atau Hibrida unggul nasional atau unggul lokal.
4.    Keuntungan MTH adalah : Persaingan cahaya tidak terjadi antara pohon pengganti dengan pohon kelapa tua dan kerusakan tanaman pengganti akibat penebangan kelapa tua tidak terjadi sedangkan kerugian, yakni pendapatan petani terputus selama 4-7 tahun setelah tanaman tua ditebang, dilakukan penanaman tanaman sela untuk mencegah terputusnya pendapatan petani.


XI.  TANAMAN SELA DI ANTARA KELAPA

11.1.  Kriteria Jenis Tanaman Sela
1. Jenis tanaman sela toleran terhadap naungan dengan intensitas radiasi surya yang relatif lebih rendah, yaitu 50-200 watt/m2, suhu rata-rata 25-27oC dan kelembaban 80%.
2. Jenis tanaman sela dapat tumbuh dan berproduksi tinggi pada daerah yang sesuai untuk kelapa, yaitu ketinggian 0-500 m di atas permukaan laut, curah hujan 1.500-3.500 mm/tahun dan bulan kering (curah hujan kurang dari 130 mm/bulan) sebanyak 3 bulan berturut-turut.
3. Jenis tanaman sela tidak merupakan tanaman inang bagi hama dan penyakit yang berbahaya bagi tanaman kelapa di suatu daerah tertentu, misalnya tanaman sela pisang di daerah serangan Sexava.
4. Jenis tanaman sela yang pengusahaannya tidak menyebabkan penurunan produksi atau kerusakan tanaman kelapa atau terjadinya erosi, dan untuk daerah-daerah  dengan curah hujan kurang dari 130 mm/ bulan, tetapi memiliki air tanah yang rendah, cocok untuk tanaman kelapa.

11.2. Tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan lain di antara kelapa meliputi tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan lain, akan duraikan berikut ini.
         
Tanaman pangan
1.    Penanaman tanaman pangan sebagai tanaman sela sebaiknya dilakukan pada saat kelapa berumur 1-4 tahun dan lebih dari 25 tahun untuk jarak dan sistem tanam 8.5 x 8.5 m dan 9 x 9 m sistem segiempat atau segitiga.
2.    Tanaman pangan yang cocok di antara kelapa, yaitu jagung, padi gogo, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, dan ubi jalar.  Tanaman pangan ditanam di antara barisan kelapa dengan jarak dari pangkal batang minimal 1.5 m.
3.    Pemeliharaan tanaman sela disesuaikan dengan kebutuhan setiap jenis tanaman pangan.

Tanaman hortikultura
1.    Tanaman hortikultura (sayuran dan buah-buahan) yang diusahakan di antara kelapa tergantung pada habitus tanaman hortikultura tersebut, iklim dan umur kelapa serta jarak dan sistem tanam kelapa.  Tanaman pepohonan seperti durian, mangga, rambutan, manggis, dan nangka sebaiknya digunakan bibit okulasi dan ditanam setelah kelapa berumur 30 tahun untuk jarak tanam konvensional.  Jika digunakan jarak tanam 6 m x 16 m, dapat ditanam setelah kelapa berumur 2-3 tahun.
2. Jarak tanam tanaman hortikultura dengan kelapa tergantung habitat tanaman sela, tanaman semusim 1.5 m, dan tanaman tahunan    ( jeruk manis dan sirsak) 3.0 m.
3.  Jenis tanaman hortikultura yang dapat diusahakan antara lain :  sayuran-sayuran, pepaya, pisang, nenas, langsat/duku, jeruk, semangka, rambutan, sirsak, durian, mangga, manggis, nangka dan jambu klutuk.

Tanaman perkebunan lain
1.    Varietas kakao yang direkomendasikan untuk ditanam di antara kelapa adalah kakao unggul, yaitu criollo, trinitario, atau hibrida forastero atau klon unggul kakao dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember seperti ICS 60, GC7, UIT 1 dan ICS 13 dan klon kakao mulia seperti DR1, DR2, DR38 dan DRC16.
2.    Kakao ditanam 2.5 m dari pangkal batang kelapa dengan baris ganda di antara kelapa dengan jarak dalam barisan 2.5 m.
3.    Pemeliharaan meliputi penyiangan, pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama dan penyakit, dilakukan dua kali setahun.
4.    Tanaman perkebunan yang dapat diusahakan di antara kelapa tergantung umur serta jarak dan sistem tanam kelapa.  Jenis tanaman perkebunan yang dapat diusahakan adalah : kakao, kopi, vanili, pala, pinang, jahe, kapulaga, kayu manis dan tebu.
5.    Jarak dan sistem tanaman kelapa 16 m x 6 m, maka semua jenis tanaman perkebunan tersebut dapat ditanam sejak kelapa ditanam.  Untuk tanaman seperti kakao, vanili, kopi dan kapulaga memerlukan naungan tambahan.
6.    Jarak tanam 9 x 9 m maka tanaman sela disesuaikan dengan intensitas cahaya.  Pada umur 0-3 tahun, hanya jahe dan tebu, pada umur 4-25 tahun hanya vanili, pada umur lebih dari 25 tahun, vanili, kapulaga, kopi, kakao, sedangkan pada umur > 35 tahun ditanam tanaman seperti pala, pinang, kayu manis, lada, serta tebu dan jahe.


XII.  PENUTUP

            Pengembangan usaha perkelapaan, tidak memungkinkan hanya dengan mengandalkan kemampuan petani kelapa itu sendiri melainkan petani perlu mendapat bantuan, baik teknis maupun finansial dari instansi terkait antara lain dari Bank Rakyat Indonesia.  Peran BRI dalam mendukung penyediaan fasilitas kredit  bagi pengembangan usaha perkelapaan sudah sejak lama dilakukan dan tentunya lebih produktif di masa mendatang.
            Teknis budidaya sangat diperlukan dalam perencanaan usahatani dan pengolahan kelapa serta keterkaitannya dengan biaya yang diperlukan.  Operasional teknis budidaya akan optimal, jika didukung dengan ketepatan waktu pelaksanaan, ketersediaan sarana produksi dan peralatan yang memadai, baik peralatan prapanen maupun pasca panen/pengolahan hasil.
            Adanya sosialisasi teknis budidaya dari pihak BRI kepada petani kelapa, dengan mengikutsertakan instansi teknis yang terkait komoditas kelapa merupakan langkah bijaksana dan inovatif dalam menunjang pengembangan kelapa yang produktif dimasa mendatang.  Meningkatnya produktivitas kelapa dan usaha diversifikasi produk akan sangat membantu perbaikan dan kesejahteraan petani dan masyarakat perkelapaan pada umumnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentarnya Disini...................