Kamis, 14 Maret 2013

DAFTAR ISTILAH DALAM PESTISIDA

DAFTAR ISTILAH DALAM PESTISIDA


  • 1.   Bahan Aktif adalah bahan kimia dan atau bahan lain yang terkandung dalam Pestisida dan pada umumnya merupakan bahan yang berdaya racun.
2.   Batas Maksimum Residu (BMR), merupakan batas dugaan maksimum residu. Pestisida yang ada dalam berbagai hasil pertanian yang diperoleh.
3.   Decomposition Time 50 (DT 50), waktu yang diperlukan untuk terjadinya 50% dekomposisi berupa disipasi dan degradasi suatu bahan kimia di suatu media.
4.   Dosis, Takaran/ ukuran dalam liter, gram atau kg yang digunakan untuk mengendalikan hama atau penyakit per satuan luas tertentu.
5.   Formulasi adalah campuran bahan aktif dengan bahan lainnya dengan kadar dan bentuk tertentu yang mempunyai daya kerja sebagai Pestisida sesuai dengan tujuan yang direncanakan.
6.  Eksplosi, Serangan OPT yang sifatnya mendadak, populasinya berkembang sangat cepat dan menyebar luas dengan pesat.
7.  Insektisida Non Sistemik adalah Pestisida yang setelah diaplikasikan/disemprotkan pada tanaman sasaran tidak diserap oleh organ-organ tanaman, baik lewat akar, batang atau daun.
8.  Insektisida Sistemik adalah salah satu jenis insektisida yang dapat diserap oleh organ-organ tanaman, baik lewat akar, batang atau daun.
9.  Insektisida Sistemik Lokal adalah kelompok insektisida yang dapat diserap oleh jaringan (umumnya daun), tetapi ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya.
10.  Iritasi adalah gejala inflamasi yang terjadi pada kulit atau membran mukosa, segera setelah perlakuan berkepanjangan atau berulang dengan menggunakan bahan kimia atau bahan lain.
 11.  Label adalah tulisan dan dapat disertai dengan gambar atau simbol, yang memberikan keterangan tentang pestisida, dan melekat pada wadah atau pembungkus Pestisida.
12.  Lethal Concentration 50 (LT50), konsentrasi yang diturunkan secara statistik yang dapat diduga menyebabkan kematian 50% dari populasi organisme dalam serangkaian kondisi percobaan yang telah ditentukan.
13.  Lethal Time 50 (LT50), waktu dalam hari yang diperlukan untuk mematikan 50% hewan percobaan dalam kondisi tertentu.
14.  Lethal Dose 50 (LD50), dosis tunggal bahan kimia atau bahan lain yang diturunkan secara statistik yang dapat diduga menyebabkan kematian 50% dari populasi organisme dalam serangkaian kondisi percobaan
yang telah ditentukan.
15.  Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), Semua organisme yang dapat merusak/ mengganggu kehidupan atau menyebabkan kematian pada tanaman pangan dan hortikultura, termasuk di dalamnya adalah hama,
penyakit dan gulma.
16.  Pencelupan (Dipping) adalah salah satu cara melindungi bahan tanaman agar terhindar dari hama atau penyakit bahan tanaman, biasanya pencelupan dilakukan dengan mencelupkan bibit atau stek kedalam larutan Pestisida.
17.  Pengasapan (Fogging) adalah penyemprotan Pestisida dengan volume ultra rendah dengan menggunakan ukuran droplet yang sangat halus.
 18.   Pengembusan (Dusting) adalah salah satu cara aplikasi suatu Pestisida yang diformulasi sebagai tepung hembus.
19.   Pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
(a)   Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasi pertanian;
(b)   Memberantas rerumputan;
(c)   Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan;
(d)   Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagianbagian tanaman, tidak termasuk pupuk;
(e)   Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan hewan peliharaan dan ternak;
(f)    Memberantas atau mencegah hama-hama air;
(g)    Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan; dan atau
(h)    Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat
menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu
dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah atau air.
20.   Pestisida untuk penggunaan umum adalah Pestisida yang dalam penggunaannya tidak memerlukan persyaratan dan alat-alat pengamanan khusus di luar yang tertera pada label.
21.   Pestisida untuk penggunaan terbatas adalah Pestisida yang dalam penggunaannya memerlukan persyaratan dan alat-alat pengamanan khusus di luar yang tertera pada label.
22.   Pestisida Dilarang, adalah suatu jenis Pestisida yang di larang untuk semua bidang penggunaan atau bidang penggunaan tertentu dengan tujuan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup.
23.   Racun Kontak adalah salah satu insektisida yang dapat masuk ke dalam tubuh serangga lewat kulit bersinggungan langsung (kontak langsung).
24.   Racun Lambung (Racun Perut, Stomach Poison) adalah insektisida yang membunuh serangga sasaran bila insektisida tersebut masuk ke dalam organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding saluran pencernaan.
25.    Racun Pernapasan adalah suatu jenis insektisida yang bekerja lewat saluran pernapasan.
26.    Residu Pestisida adalah sisa-sisa Pestisida, termasuk hasil perubahannya yang terdapat atau dalam jaringan manusia, hewan, tumbuhan, air, udara atau tanah.
27.   Resistensi adalah menurunnya kepekaan hama, penyebab penyakit dan /atau gulma terhadap Pestisida tertentu (Kebal).
28.   Resistensi Hama, suatu fenomena perubahan populasi hama yang didominasi oleh individu-individu peka menjadi suatu populasi yang didominasi oleh individu-individu resisten terhadap Pestisida tertentu. Perubahan ini menyebabkan Pestisida yang awalnya efektif untuk mengendalikan hama menjadi tidak efektif lagi.
29.   Resurjensi adalah peningkatan populasi organisme sasaran setelah perlakuan dengan Pestisida.
30.   Resurjensi Hama, adalah suatu fenomena meningkatnya serangan hama tertentu sesudah perlakuan dengan insektisida.
31.   Seed Dressing (SD) atau Seed Treatment (ST) adalah Pestisida berbentuk tepung yang khusus digunakan untuk perawatan benih.
32.   Selektivitas Herbisida adalah kemampuan insektisida memilih tumbuhan yang dikendalikannya dalam hubungannya dengan tanaman pokok.
33.   Selektivitas Insektisida adalah kemampuan insektisida memilih OPT sasaran tanpa merugikan organisme non target termasuk musuh alami hama.
34.   Soluble Liquid (SL) adalah Pekatan cair bila dicampur air akan membentuk larutan. Pestisida ini digunakan dengan cara disemprotkan.
  35.   Tepung Hendus atau Dust (D) adalah Pestisida siap pakai dengan konsentrasi rendah yang digunakan dengan cara dihembuskan
36.   Ultra Low Volume (ULV) adalah sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah.
37.   Umpan atau Bait (B) Ready Mix Bait (RB atau RMB) adalah formulasi siap pakai yang umumnya digunakan untuk formulasi rodentisida sebagai umpan.
38.   Wadah adalah tempat yang terkena langsung Pestisida untuk menyimpan selama dalam penanganan.
39.   Water Dispersible Granule (WG atau WDG)adalah bentuk butiran, mirip G (Granule) tetapi penggunaannya sangat berbeda yaitu harus diencerkan dengan air dan digunakan dengan cara disemprotkan.
40.   Wettable Powder (WP) adalah bentuk formulasi tepung (WP) yang dapat disuspensikan dalam air.

Admin id : Dimas Hamdayu
Sumber : http://www.facebook.com/groups/asosiasipepayaindonesia/doc/228735057196164/
Tinggalkan Balasan
Top of Form
Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *
Nama *
Bottom of Form


BUDIDAYA LABU SIAM


Budidaya Labu Siam


Latin: Sechium edule
Inggris: Chayote
Cultivar: Lokal
Tanaman labu tergolong mudah ditanam, tersebar di berbagai belahan dunia. Dataran tinggi berhawa dingin maupun dataran rendah berhawa panas tidak menjadi hambatan. Daerah dengan ketinggian 200-1000 m dpl paling cocok ditanami labu siam. Ia mampu berantisipasi terhadap kekurangan maupun kelebihan air.
Labu dapat tumbuh optimal pada tanah kering dan berdrainase serta aerasi baik, gembur, serta kaya bahan organic. Pada pH 5-6,5 cocok tumbuh.
Pengolahan Tanah
Tanah yang sudah diolah dengan pencangkulan 2 kali hingga gembur diberi pupuk kandang dan ditaruh di sekitar lubang tanam. Tanah tidak perlu dibedeng atau gulud. Akan tetapi dibuat parit kecil di sekeliling lahan dan diantara beberapa baris tanaman.
Penanaman
Masukkan biji yang telah bertunas dari buah labu siam tua ke dalam lubang dengan jarak tanam 4×4  cm, dengan 2-3 biji per lubangnya.
Pemeliharaan

Rabu, 06 Maret 2013

USAHA PAKAN IKAN


Peluang Usaha Pakan Ikan

Peluang usaha dalam dunia perikanan seakan tidak ada habisnya untuk terus digali dan dikembangkan potensinya. Dari hasil tangkapan ikan yang didapatkan, proses budidaya, termasuk didalamnya kebutuhan pakan ikan. Jika dalam artikel sebelumnya kita membahas secara global mengenai pakan ikan, kali ini kita akan bahas lebih dalam lagi mengenai pakan ikan buatan sebagai sebuah peluang usaha. Pada bagian ini dijelaskan macam bahan yang bisa digunakan sebagai bahan pembuatan pakan ikan berikut cara pembuatan serta kandungan gizinya. Dengan ketersediaan bahan yang cukup melimpah dengan harga relatif murah, proses pembuatan yang cukup mudah serta daya serap pasar yang cukup tinggi, menjadikan usaha pakan ikan buatan sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Ada berbagai macam bahan yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan pakan ikan buatan. Secara umum dibagi menjadi : bahan hewani (berasal dari hewan) serta bahan nabati (berasal dari tumbuh-tumbuhan. Disamping bahan baku utama pada umumnya diberikan bahan tambahan yang diperlukan sebagai penyempurna pakan buatan tersebut, diantaranya sebagai perasa dan bahan perekat. Secara detai akan dijelaskan sebagai berikut :
BAHAN HEWANI
A. Tepung Ikan
Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi cendawan atau bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang paling essensial sampai 8%.
Kandungan gizi:
Protein : 22,65%;
Lemak : 15,38%;
Abu : 26,65%;
Serat : 1,80%;
Air : 10,72%;
Nilai ubah : 1,5-3
Cara pembuatannya:

MANFAAT PROBIOTIK UNTUK TAMBAK


Manfaat Probiotik di Tambak
Tahan terhadap penyakit, survival rate meningkat, dan penggunaan pakan lebih efisien.
Di dalam tambak udang, probiotik (mikroba hidup) dapat digunakan untuk memperbaiki ekosistem tambak sehingga udang lebih nyaman. Mikroba yang biasa dimanfaatkan antara lain Lactobacillus, Bacillus, dan Saccharomyces. Mikroba tersebut diisolasi dari alam dan diperbanyak dengan fermentasi. “Probiotik ini menjaga ekosistem agar udang nyaman untuk hidup (di tambak),” kata Teddy Candinegara, Manajer Divisi PT Behn Meyer Indonesia, distributor probiotik, saat ditemui AGRINA di Serpong, Banten (30/11).
Probiotik, menurut M. Nadjib, Country Manager PT Inve Indonesia, distributor probiotik, boleh dibilang sebagai asuransi bagi keberhasilan industri tambak udang. Sebagai asuransi, menurut Teddy, mempunyai peran dalam keberhasilan budidaya, meski bukan suatu jaminan. “Kalau tidak pakai probiotik, saya jamin, kemungkinan besar mereka (para petambak udang) gagal, terutama tambak udang intensif,” ungkapnya.
Dengan kepadatan tebar udang yang tinggi, terutama pada tambak-tambak intensif, mau tidak mau diperlukan probiotik. Sebab, kualitas airnya kurang baik. Apalagi dengan sistem tertutup, tanpa atau sedikit ganti air. Probiotik, menurut Teddy, tidak diperlukan kalau padat tebar sekitar 10—20 ekor per m2. Tapi kalau padat tebarnya sekitar 50—70 ekor per m2 (semi intensif), apalagi sampai 300 ekor, sangat diperlukan probiotik.
Cara kerja
Ada dua cara kerja probiotik pada tambak udang. Pertama, bakteri baik yang terdapat pada probiotik mendesak bakteri “jahat” sehingga ruang hidup bakteri “jahat” ini terdesak. Salah satu bakteri jahat adalah Vibrio sp., penyebab penyakit. Dengan demikian, probiotik ini bersifat competitive exclusion, yaitu bakteri yang jahat didesak keluar dan diganti dengan bakteri yang baik berasal dari probiotik tersebut.
Menurut Teddy, Vibrio boleh dikatakan sebagai penyakit oportunis karena bisa menyerang sistem pencernaan udang sehingga udang menjadi lemah. Pada saat lemah itu, virus-virus lain masuk, seperti white spot syndrome virus (WSSV), taura syndrome virus (TSV), dan infectious myonecrosis virus (IMNV). Dengan adanya probiotik, udang masih bisa hidup dengan nyaman. Hal ini seperti yang dilakukan di Brasil dan Ekuador. “Bagaimana udang bisa hidup di lingkungan yang sudah ada myo (IMNV),” tukas Teddy.
Selain mendesak bakteri yang jahat, probiotik juga bisa menguraikan endapan (berupa udang yang mati atau sisa-sisa pakan) yang ada di dasar tambak. Dengan demikian, bisa mengurangi racun metabolit, seperti NH2, NO2, dan H2S yang terdapat di dalam tambak.
Efek tak langsung
Dengan demikian, logikanya, probiotik itu berfungsi untuk menciptakan lingkungan tambak sebaik mungkin supaya penyakit tidak ada. “Bayangkan di rumah sakit, begitu banyak orang keluar masuk bawa penyakit, kok nggak pernah terjadi wabah penyakit di rumah sakit. (Karena sanitasi lingkungannya terjaga). Teorinya ‘kan begitu,” urai Teddy.
Lalu, apakah probiotik ini berefek langsung bagi keberhasilan industri tambak udang? Probiotik tidak seperti obat yang langsung bekerja pada sumber penyakit yang bikin orang langsung sembuh. Probiotik hanya menjaga ekosistem sehingga udang lebih nyaman hidup. “Efek langsung (probiotik) tidak ada. Tapi efek tidak langsungnya, pada saat udang bergairah, makannya normal sehingga pertumbuhannya bagus,” katanya.
Syatrya Utama dan Liana Gunawati

CARA MEMBUAT PROBIOTIK UNTUK TAMBAK


Cara membuat probiotik untuk tambak
Formula untuk membuat Probiotik :
a) 1kg molase
b) 2kg gula pasir
c) 1 kaleng susu kental manis
d) 1/2 liter probiotik pabrikan / probiotik starter
e) 1 kotak fresh milk ( optional pengganti susu kental )
f) 30 liter air
g) pupuk urea, 2 sendok makan (optional untuk nitrobacter, tapi khusus ditebar)

dicampur di drigen diratakan, dikocok2. simpan jangan kena matahari trus ditutup. Dibiarkan selama 2 hari (48 jam) tiap 12 jam dibuka sebentar agar gas fermentasi keluar dan ditutup kembali.
Fungsi nitrobacter, mengurai kotoran ikan untuk mengurangi kandungan ammonia si dalam kolam ( sangat dibutuhkan jika pergantian air agak susah ).


cara pemakaian : setiap 10 cc probiotik buatan, di campur dengan 300cc air, ada dua opsi, di campur ke pakan ( bobot 1kg), atau di tebar di kolam.
Dosis 1 liter per 80M2 kolam setiap 1-2 bulan.


Cara membuat probiotik starter :
a) 50g molase
b) 100 cc fresh milk
c) 50g jus kedelai
d) 1 liter air

rebus adukan diatas selama 15-30 menit , terus di dinginkan, campur dengan biang bakteri yoghurt atau kefir atau dadih. di taro 2 ahri di dalam drum atau ember, pake alat oxygen pompa buat aquarium dan beres.

KEGIATAN